kehutanan

Writing away with Blog.com

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN

| 1 Comment

PROPOSAL PENELITIAN

 

PENGARUH BEBERAPA VARIETAS JAGUNG DAN DOSIS PUPUK CAIR KOTORAN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG

 

DISUSUN OLEH :

NAMA           : ANDI KASTALANI

                                     

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SAMAWA (UNSA)

SUMBAWA BESAR

TAHUN 2010

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

PENGARUH BEBERAPA VARIETAS JAGUNG DAN

DOSIS PUPUK CAIR KOTORAN SAPI TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH ;

ANDI KASTALANI

NIM  ; 07.04.07.0176

Disetujui oleh ;

Dosen pembimbing

 

 

IKHLAS SUHADA,SP.,M.Si

 

KATA PENGANTAR               

       Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga proposal yang berjudul  “Pengaruh Beberapa Varietas Jagung dan Dosis Pupuk Cair Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea Mays L ) di Kabupaten Sumbawa Barat “ dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktunya.    

Penyususunan Proposal ini bertujuan untuk melaksanakan penelitian dalam rangka menyelesaikan tugas akhir belajar menempuh jenjang S.1 di Fakultas Pertanian Universitas Samawa.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen, rekan-rakan Mahasiswa dan semua pihak yang telah membantu melaksanakan penyususunan proposal. Dengan demikian semoga proposal ini bisa memberikan gambaran bagi semua pihak yang berkompeten terhadap perkembangan teknologi pertanian.

Penyusun

                                               

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN  …………………………………      i

DAFTAR ISI …………………………………………………………      ii

  1. PENDAHULUAN ……………………………………………………….      1

1,1                                                                                                                                                                                                                                  Latar Belakang                1

1,2                                                                                                                                                                                                                                  Masalah                3

1,3                                                                                                                                                                                                                                  Maksud dan Tujuan Penelitian    …………………………………………………………………………………………………. 4

1,4                                                                                                                                                                                                                                  Manfaat Penelitian                       4

1,5                                                                                                                                                                                                                                 Hipotesa                   4

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1                                                                                                                                                                                                                                  Pupuk             5

2.1.1.  Ketegori Pupuk……………………………………………..      5

2.1.2.  Pupuk Organik………………………………………………      7

2.1.3.  Pupuk Kandang……………………………………………..      9

2.1.4.  Urine Sapi…………………………………………………….      12

2.2                                                                                                                                                                                                                                  Jagung            14

2.2.1 Taksonomi Jagung…………………………………………..      14

2.2.2  Morfologi Tanaman jagung……………………………..      14

2.2.3 Varietas Jagung………………………………………………      16

2.2.4  Syarat tumbuh Tanaman Jagung………………………      16

2.2.5  Hama Penyakit Tanaman Jagung……………………..      17

  1. METODELOGI PENELITIAN

3.1.Materi…………………………………………………………………..      21

3.1.1.  Bahan-Bahan Penelitian………………………………….      21

3.1.2.  Alat-Alat Penelitian………………………………………..      21

3.1.3.  Tempat dan Waktu Penelitian………………………….      21

3.2. Metode penelitian…………………………………………………..      21

3.2.1.  Rancangan percobaan…………………………………….      21

3.2.2.  Metode Analisa data……………………………………….      22

3.2.3.  Parameter Penelitian……………………………………….      22

3.2.4.  Pelaksanaan penelitian……………………………………      24

3.2.5.  Jadwal Penelitian……………………………………………      30

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..      31

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1   latar Belakang

Jagung sampe saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi Karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga masih mempunyai arti penting dalam pengembangan industry pakan ternak khususnya pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industry pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakian meningkat pula ( subandi et  al.,1998 )

Usaha peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yakni : (1) Eksentifikasi ( perluasan areal ) dan (2) intensifikasi ( peningkatan produktivitas ). Program perluasan areal tanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik saeah irigasi maupun sawah lahan tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi melalui pola tanam. Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan teknologi dan manajemen pengelolaan. Uasaha-usaha tersebut nyata meningkatan produktifitas jagung terutama dengan  penerapan teknologi inovatif yang lebih berddaya saing (produktif, efesien, dan berkualitas) telah dapat menghasilkan jagung sebesar 7-12 ton /ha seperti ditemukan varietas unggul baru dengan tingkat produktifitas tinggi dan metode manajemen pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terpadu

Namun disadari oleh para pemulia tanaman bahwa varietas hibrida yang sama pada lokasi yang berbeda belum tentu sama produktifitasnya, hal ini dipengaruhi oleh keadaan iklim, cuaca, tanah, kandungan hara, tofograpi ( sutoro Et el, 1998 ) dan keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki oleh petani. Untuk mendapatkan varietas yang memiliki tingkat kesesuaian lahan sangat baik tentunya diremukan beresamaan terhadap factor-faktor penentu produksi tersebut diatas.

Tidak hanya itu penentu produktifitas tanaman juga dipengaruhi oleh asupa nunsur hara yang diberikan pada tanaman, semenjak revolusi hijau penggunaan pupuk anorganik mulai terus digalakkan. Pada awalnya produksi sangat tinggi dan menjadikan kehidupan petani dapat terangkat kesejahteraannya. Belakangan penggunaan pupuk organic (kimia) mulai dirasakan justru semakin menurunkan hasil dirinjau dari segi ekonomisnya, serta terjadi kemunduran kesehatan lingkungan sebagai akibat pencemaran reaksi kimia baik terhadap tanah maupun air.

Selain itu, keadaan pupuk anorganik pada tingkat pengecer, terkadang keadaaannya tidak sesuai dengan kebutuhan baik volume atapun waktu aplikasi pemupukan, sehingga petani mencari alternative lain dengan memanfaatkan keberadaan limbah yang berada disekitarnya baik kotoran hewan maupun batuan dan tanaman. Namun  disadari sekarang ini terutama di Sumbawa barat keberadaan dan penggunaan pupuk organic masih belim begitu meluas, hal ini disebabkan oleh beberapa factor seperti masih kurangnya pengetahuan petani, kebutuhan pupuk organik diperlukan dalam volume yang besar untuk kebutuhan tanaman, carap enggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari kotoran ternak terutama urine belum begitu diketahui, karakteristik pupuk kandang dengan kandungan hara yang kecil serta lambat tersedia.

Penggunaan pupuk organic khususnya di Sumbawa Barat hanya dilakukan oleh petani yang memiliki pengetahuan tentang produk organic serta adanya petan yang hanya mencobba aplikasi penggunaan pupuknorganik namun belum merupakan kebutuhan yang sangat esensial bagi tanah, tanaman, dan produksi sehat. Disini lain informasi tentang penggunaan pupuk organikperlu dilakukan penelitian tentang pengaruh beberaa varietas tanaman jagung dan dosis pupuk cair sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung di Desa Meraran Kecamatan Seteluk.

1.2     Maslah

Penggunaan pupuk Organik secara terus menerus menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan tanah dan akan mengakibatkan rendahnya hasil produksi jagung. Upaya yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan yaitu pemikihan varietas ungguldengan menambahkan bahan organic kedalam tanah. Pupuk cair kotoran sapi merupakan bahan organic yang banyak tersedia namun pemamfaatannya oleh petani masih kurang mampu dikarenakan keterbatasa pemikiran membuat menjadi pupuk organik.

1.3     Maksud Dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui kombinasi yang tepat jenis/varietas jagung dan dosis pupuk cair kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa varietas jagung dan dosis pupuk cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

1.4     Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi para pemerhati tanaman jagung dalam pemillihan jenis/varietas tanaman dan besarnya dosis pupuk cair organic kotoran sapi untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut, dan menjadi sumber penbanding bagi peneliti yang lain pada bidang yang sama dengan aspek yang berbeda, serta menjadi pengetahuan praktis bagi petani dalam mempertimbangkan penggunaan jenis/varietas dan aplikasi dosis pupuk cairpada lahan usaha taninya.

1.5     Hipotesa

Untuk mengarahkan jalannya produksi ini maka diajukan hitesa sebagai berukut :

HO :    Baberapa varietas tanaman jagung dan dosis pupuk cair kotoran sapi, barpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

HI :      Beberapa varietas tanaman jagungdan dosis pupuk cair kotoran sapi, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  PUPUK

Dalam arti luas yan dimaksub pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik lagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan PH tanah yang masam, pemberian legin bersama benih tanaman kacang-kacangan serta pemberian pembenah tanah ( soil conditioner ) untu memperbaiki sifat pisik tanah. Demikian pula pemberian urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam tanah tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan. Dengan demikian bahan kapur, legin, pembenah tanah dan urea disebut pupuk ( Winarso, S., 2005 ).

Dalam pengertian yang khusus pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, dari kegiatan yang disebutkan diatas hanya urea yang dianggap pupuk karena bahan tersebut yang megandung hara tanaman yaitu Nitrogen ( Fot, H.D., 1994).

Bahan pupuk tersebut selain mengandung hara tanaman umumnya mengandung bahan lain, yaitu ( adisumartho, S, 1994 ):

  1. Zat pembawa atau ( carrier) double superpospat (DS) ; zat pembawanya adalahCaSO4 dan hara tanamannya fosfor (p)
  2. Senyawa-senyawa lain berupa kotoran ( imputities ) atau campuran bahan lain dalam jumlah relative sedikit. Misalnya ZA (zwavelzuure amoniak) sering mengandung kotoran sekitar 3% berupa kholor, asm bebas ( H2SO4 )dan sebagainya.
  3. Bahan mantet ( coated ) ialah bahan yang melapisi pupuk dengan maksud agar pupuk mempunyai nilailebih baikmisalnya kelarutannya berkurang, nilai higrokopopisnyamenjadi lebih rendah dan mungkin akan lebih menerik. Bahan yang diginakan untuk selaput berupa aspal, lilin, malam, wax dan sebagainya. Pupk yang bermantel harganya lebih mahal dibandingkan tanpa mantel.
  4.  Filler ( pengisi ) pupuk majemuk atau pupuk kandang yang diinginkan, juga dengan maksud agar lebih mudah disebar lebh merata.

Dalam praktek perlu diketahui istilah-istilah khusus yang sering digunakan dalam pupuk antara lain ialah ( simanungkawit, R.D.M., dkk. 2006 ) :

  1. Mutu pupuk atau grade fertilizer artinya angka yang menunjukkan kadar gara tanaman utama ( N,P dan K ) yang dikandung oleh upuk yang dinyakan dalam prosen N total,  P2o5 K2O. misalnyapupuk rustika Yellow 15-10-12berarti kadar N 15 % P205 dan K2O 12 %.
  2. b.   Perbandimga pupuk atau ratio fertiliser ialah perbandingan unsure N, P dan k yang dinyatakan dalam N total, P2O5 K2O merupakan perbandingan dari grade vertiliser  misalnya grade fertiliser 16-12-20 berarti ratio fertilisernya 4:3:5.
  3. Mixed fertilizer atau pupuk campur ialah pupuk yang berasal dari berbagai pupuk yang kemudian dicampur oleh pemakainya. Misalnya pupuk Urea, TSP dan KCI dicampur  menjadi satu dengan perbandingan tertentu sesuai dengan mutu yang diinginkan. Hal ini berbeda denga pupuk majemuk  yaitu pupuk yang mempunyai dua atau lebih hara tanaman langsung dibuat langsung dari pabriknya.

 

2.1.1                Kategori Pupuk

Pupuk dapat dibedakan berdasarkan bahan asal, senyawa, fase cara penggunaan, reaksi fisiologi, jumlah dan mcam hara yang dikandungnya ( sutanto,2002 ) dapat diuraikan sebagai berikut :

Berdasarkan asalnya dibedakan :

  1. Pupuk alam ialah puppuk terdapat dari alam atau dibuat dari bahan alam tanpa proses yang berarti. Misalnya: pupuk kompos, pupuk kandang, gannopupuk hijau dan pupuk batuan P.
  2. Pupuk buatan ialah pupuk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya : TSP, urea rustika dan nitrophoska. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika atau kimia.

Bardasarkan senyawanya dibedakan :

  1. Pupuk organic ialah pupuk yang berupa senyawa organic kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organic : pupuk kandang, kompos, guano, pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organic misalnya rock phospat, umumnya berasal dari batuan sejenis apatit [ Ca3(PO4)2].
  2. Pupuk anorganik atau pupuk mineral merupakan pupuk dari pupuk dari senyawa anorganik. Hamper semua pupuk buatan tergolomg pupuk anorganik.

Berdasarkan fase-nya dibedakan :

  1. Padat. Pupuk padat umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut.
  2. Pupuk cair, pupuk ini berupa cairan, cara penggunaanya dilaritkan dulu pakai air, umunya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung banak hara, baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal. Pupuk amoniak cair merupakan pupuk cair yang kadar N nya sangat tinggi sekitar 85 %,  penggunaanya dapat lewat tanah ( injeksikan )

Berdasarkan cara penggunaanya dibedakan :

  1. Pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukannya dilarutkan dalam air dan disemprotkan pda permukaan daun.
  2. Pupuk akar atau pupu anah ialah pupuk yang diberikan ke dalam tanah disekitar akar akar agar disserap oleh akar tanaman.

Berdarkan reaksi fisikologisnya dibedakan :

  1. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis masam artinya bila pupuk tersebut diberikan ke dalam tanah ada kecendrunga tanah menjadi leebih masam (pH menjadi lebih rendah ) misalnya : Za dan Urea.
  2. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basis ialah pupuk yang apabila diberikan ke dalam tanah menyebabka pH tanah cendrung naik misalnya :  pupuk chili shalpeter, calnitro, kalsium sianida.

Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya dibedakan :

  1. pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman sja. Misalnya urea hanya mengandung hara N, TSP hanya dipentingkan P saja ( sebetulnya juga mengandung Ca )
  2. pupuk majemuk ialah pupuk yang mengadunng dua atau lebih dua hara tanaman. Contoh : NPK, amophoska, nitrophoska dan rustika.

Berdasarkan macam hara tanamaan dibeakan :

  1. pupuk makro ialah pupuk yang hanya mengandung hanya hara makro saja: NPK, Nitrophoska, Gandasil.
  2. Pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hanya mikro saja, misalnya : Mikrovet, mikroplek, metalik.
  3. Campuran makro dan makro mislnya : pupuk gandasil, bayfolan, rustika. Sering juga ke dalam pupuk campur makro dan mikroditambahkan juga zat pengatur tumbuh ( hormon tumbuh ).

2.1.2  PUPUK ORGANIK

penggunaan

 

 

One Response

  1. insya Allah say akan membuatnya.

Leave a Reply