kehutanan

Writing away with Blog.com

June 1, 2012
dip_putradi
0 comments

arti dan tujuan inventore hutan

Arti dan tujuan inventore hutan

Istilah inventore hutan diterjemahkan dari bahasa inggris forest inventory. Pada jaman colonial dan setelah kemerdekaan, istilah yang dipakai adalah inventaris hutan, sebagai terjemahan dari istilah  bahasa belanda bosch inventarisatie. Istilah lain dengan arti yang sama untuk bahasa Indonesia adalah parisalahan atau risalah hutan. Istilah ini dipakai di  kalangan pengelola hutan jati di jawa, khususnya pada waktu inventore hutan masih menggunakan metode okuler. Dalam metode tersebut, inventore hutan memang dilakukan dengan membuat deskripsi atau risalah tentang keadaan hutan secara kualitatif. Dalam bahasa inggris, istilah lain dengan  arti yang sama dengan inventore hutan, tetapi mempunyai lingkup yang lebih terbatas, adalah timber cruising atau sering disingkat dengan cruising, dan timber cruising

Dalam system pengelolaan hutan konvesional, inventore hutan diperlukan untuk mengetahui kekayaan yang terkandung di dalam suatu hutan pada saat tertentu. Hutan sebagai asosiasi masyarakat tumbuh-tumbuhan dengan dominasi pohon-pohonan  selalu mengalami perubahan setiap waktu. Oleh karena itu jumlah kekayaan yang terkandung di dalam hutan juga selalu berubah. Hal ini menyebabkan inventore hutan tidak mudah untuk dilaksanakan. Namun adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh inventore hutan justru mendorong perkembangan teknik inventore huatn itu sendiri dari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan nya. Salah satu cabang yang penting dalam inventore hutan adalah pertumbuhan tegakan dan hasil kayu (growth and yield). Dalam bidang ini telah berkembang  berbagi teknik penaksiran (estimation), untuk memperkirakan perkembangan kekayaan hutan di waktu yang akan datang. Nilai kekayaan suatu hutan tidak  hanya dipengaruhi oleh keadaan hutan yang ada pada waktu inventore serta taksiran perubahan yang akan terjadi, tetapi juga ditentukan oleh factor-faktor lain di luarnya. Semua itu merupakan elemen-elemen yang akan dicatat dalam suatu inventore hutan. Secara garis besar elemen-elemen tersebut dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Keadaan hutan itu sendiri. Informasi tentang kelompok ini meliputi luas areal, jenis dan komposisi, persebaran diameter pohon, keadaan pertumbuhan, kerapatan atau kepadatan bidang dasar, system permudaan, kualitas tegakan  dan keadaan tumbuhan bawah.
  2. Keadaan lahan hutan informasi keadaan lahan hutan yang perlu dicatat  dalam inventore hutan misalnya topografi, jenis dan sifat-sifat tanah, keadaan berbatu, air tanah dan sebagainya.
  3. Keterangan lain. Elemen-elemen diluar hutan dan kawasan hutan yang ikut menentukan atau mempengaruhi nilai dan kualitas hutan juga perlu dicatat dalam inventore hutan, sperti iklim, aksesabilitas, industry dan perdagangan, tata guna lahan serta keadaan social ekonomi masyarakat.

Dalam system pengelolaan hutan modern, inventore hutan tidak  hanya berkepentingan dengan hutan dan kawasannya saja. Masalah-masalah diluar hutan dan kawasan mempunyai arti yang tidak kalah pentingnya sehingga juga harus dikumpulkan secara cermat dengan persiapan yang memadai. Tergantung pada tujuan inventore hutan, maka kecermatan pencatatan masing-masing informasi tersebut akan berbeda-beda. Untuk informasi yang dianggap penting tentu saja diperlukan data yang lebih akurat disbanding dengan informasi lain yang mempunyai kedudukan kurang penting dalam inventore hutan. Jadi tingkat kecermatan informasi yang dicatat dalam inventore hutan  ditentukan oleh tujuan inventore hutan yang diinginkan.

Tujuan yang ingin dicapai oleh inventore hutan dapat bermacam-macam. Biarpun pada pokoknya inventore hutan akan mencatat berbagai macam informasi seperti telah diuraikan di atas, namun penekanan pada informasi yang diperlukan tersebut berbeda-beda, bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Hubungan antara tujuan dan penekanan pengambilan informasi yang diperlukan dalam inventore hutan dilukiskan dengan jelas oleh HUSCH (1971) dalam bukunya   tentang planning a forest inventory.

Populasi dan sampel

Pengertian umum

Dalam statistic, populasi merupakan kumpulan individu yang jumlahnya dapat terbatas (finite) atau tak terbatas (infinitet). Misalnya populasi masyarakat, tersusun atas individu manusia yang  me njadi anggota masyarakat tersebut. Populasi hutan terdiri atas pohon-pohonan, semak  belukar, dan satwa yang hidup di atas lahan  tertentu. Jadi populasi hutan mempunyai anggota yang sangat kompleks, tidak saja  individu vegetasi, tetapi juga satwa dan lahan dimana vegetasi dan satwa tersebut hidup.

Populasi mempunyai karakteristik tertentu. Sebagai contoh, populai  masyarakat mempunyai karakteristik yang bervariasi ; demikian pula populasi hutan. Karena keterbatasan lingkup studi, seringkali tidak seluruhnya karakteristik populasi tersebut diperhitungkan sebagai obyek; hanya karakteristik yang dianggap relevan saja yang dimasukkan ke dalam perhitungan-perhitungan.

Sampel merupakan bagian populasi yang secara statistic  dianggap representative untuk mewakili karakteristik atau menggambarkan parameter populasi tersebut. Sifat mewakili (representativeness) sampel yang diambil dari suatu populasi dapat diukur  denga n tingkat kepercayaan (degree of  confidence), dan ini merupakan eror sampling (sampling eror ) yang selalu melekat pada sampel  mana pun. Hal ini disebabkan oleh dua  hal yang  berkaitan denga sifa alami populasi, yaitu: (a) variasi dalam populasi dan (b) kesempatan untuk memilih sampel.

Di samping eror sampling juga dikenal adanya eror non sampling. Kedua macam eror tersebut sama sekali terpisah dengan kedudukannya dalam satatistik. Eror non sampling berkaitan dengan bias dan kesalahan pengukuran atau cara kerja. Kalau ada kesalahan atau kurang hati-hati dalam pengukuran mungkin akn terjadi saling mengurangi (cancel-out) kesalahan tersebut. Tapi bila kesalah tersebut terjadi secara tetap atau secara sistematik, maka ini termasuk bias misalnya karena alat yang dipakai cacat, ada kesalahan pengukuran yang sampling atau cara analisa yang tidak betul. Dalam sampling, eror  non sampling harus ditiadakan sehingga parameter sampel yang diperoleh hanya mengandung eror sampling saja. Dengan demikian perbedaan antara parameter sampel  dengan parameter  populasi dapat di taksir besarnya. Jadi eror sampling adalah perbedaan antara parameter sampel dengan parameter populasi.

Kenyataan eror sampling tidak pernah diketahui besarnya karena pengukuran 100% tidak dilakukan. Akan tetapi perbedaan tersebut  dapat ditaksir kalau sampel yang diperoleh  bebas  dari bias dan eror non sampling. Hal itu dapat dicapai bila pengambilan sampel mengikuti prosedur yang benar. Secara  garis besar,  prosedur sampling dapat dipisahkan menjadi dua , yaitu:

1)      Metode sampling non random (non-random sampling ).

2)      Metode sampling peluang (probability sampling)

metode sampling yang pertama dapat menghasilkan taksiran parameter populasi.,

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

  • AMDAL
    (
    Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
  • PERATURAN
    PERUNDANG-UNDANGAN

UULH = Undang-Undang Lingkungan Hidup no

23 Tahun 1997 , yang paling baru adalah UU no 3 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan payung dari seluruh kebijakan Lingkungan Hidup

  • BEBERAPA DEFINISI LINGKUNGAN :
  • Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain;
  • Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup;
  • Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan;
  • Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;
  • Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
  • Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
  • Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain;
  • Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya;
  • Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
  • Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan;
  • Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup;
  • Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya;
  • Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang;
  • Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan;
  • Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya;
  • Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
  • Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain;
  • Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain;
  • Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;
  • Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan;
  • Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan;
  • Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup;
  • Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan;
  • PROYEK SIPIL WAJIB AMDAL

1.  PROYEK KE – PU-AN

a.  Real estate  :  > 25 ha u/kota

metropolitan dan > 100 ha u/kota/kab

b.  Jalan tol u/semua besaran

c.   Jalan Propinsi/kabupaten > 25 Km

d.   Pelabuhan dan dermaga  : > 300 meter

e.   Bandar Udara : semua besaran

f.    Jembatan : bentang > 500 meter

g.   Terminal type B dan A

h.   Bendungan

I.    TPA luas > 10 ha

2.      DIKNAS  :  GEDUNG PENDIDIKAN :  luas bangunan > 10.000 m2

3.      Diperindag : PUSAT PERDAGANGAN :  luas bangunan > 10.000 m2 atau  luas lahan > 5 ha

4.    Dinas PARIWISATA :

Hotel : kamar > 200 kamar

5.    Dinas Kesehatan :

Rumah sakit dengan bed > 200 atau RS type  B dan A

  • KEBIJAKAN LH DI INDONESIA PASCA
    OTONOMI DAERAH
  • Secara bertahap Pusat memberi kebebasan Kabupaten/Kota untuk mengurusi SDA   yang ada di wilayah masing masing
  • Terdapat keterbatasan SDM dan pendanaan sehingga SDA yang potensial tidak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
  • Terdapat beberapa kegiatan pembangunan yang belum dilepas oleh Pusat yaitu :

a.  Bidang Pertambangan

b.  Beberapa kegiatan di bidang perhubungan (bandara, pelabuhan)

  • PENGERTIAN AMDAL

Adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (UULH No 23 tahun 1997)

Usaha-usaha yang menimbulkan dampak besar dan penting :

Pengubahan bentang alam dan bentuk lahan

Eksploitasi SDA

Proses dan kegiatan yang secara potensial akan memberikan pemborosan pencemaran dan kerusakan lingkungan

Proses dan kegiatan yang hasilnya  dapat mempengaruhi lingkungan alam, sosial ekonomi dan budaya serta lingkungan buatan

Proses dan kegiatan yang hasilnya  dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi SDA dan/atau perlindungan cagar budaya

Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan , jenis hewan dan jasad renik

Pembuatan dan penggunaan bahan hayati atau non hayati

Penerapan teknologi yang diprakirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan

  • KRITERIA DAMPAK BESAR DAN PENTING
  • JENIS – JENIS AMDAL
  1. Jumlah manusia yang terkena dampak
  2. Luas wilayah persebaran dampak
  3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
  4. Komponen LH lain yang terkena dampak
  5. Sifat kumulatif dampak
  6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak

AMDAL TUNGGAL adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan

AMDAL TERPADU/MULTISEKTORAL  adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha/kegiatan terpadu yang direncanakan terhadap LH dan melibatkan lebih dari 1 instansi yang membidangi kegiatan tersebut

Kriteria kegiatan terpadu meliputi :

berbagai usaha/kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam perencanaan  dan proses produksinya

Usaha dan kegiatan tersebut berada dalam satu kesatuan  hamparan ekosistem

AMDAL KAWASAN adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha/kegiatan yang direncanakan terhadap LH dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan RTRW yang ada.

Kriteria AMDAL KAWASAN  :

q   berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan lainnya

q   berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau rencana tata runag kawasan

q  Usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem

  • AMDAL LAHAN BASAH
  • Panduan penyusunan AMDAL LAHAN BASAH sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.5 tahun 2000
  • Salah satu kategori wilayah yang perlu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah
  • TIPELOGI EKOSISTEM terbagi menjadi 3 zona :

Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin

Ekosistem rawa pasang surut air tawar

Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak

  • HAL-HAL YANG HARUS DIINGAT TERKAIT KAWASAN LAHAN BASAH

Ekosistem lahan basah memiliki potensi alami yang sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut ) pada bentang lahan itu

Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (slurry) yang terbawa sebagai kandungan air

Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan di sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya

  • KAWASAN YANG HARUS DILESTARIKAN
  • Kawasan Gambut :

Kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Kawasan gambut berfungsi sebagai penambat air (mengendalikan hidrologi setempat). Kawasan yang dilindungi adalah gambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat pada bagian hulu sungai dan rawa

  • Kawasan Resapan Air :

daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air murni (aquifer) yang berguna sebagai sumber air. Kriteria : curah hujan tinggi, struktur tanah mempunyai permeabilitas tinggi

  • Sempadan  Sungai :

kawasan sepanjang kanan kiri sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai

Kriteria sempadan sungai :

  1. Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman
  2. Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu 10 sampai 15 meter kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan kegiatan ataupun proses alam.

Kriteria :

dataran sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat

Kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi waduk/danau. Perlindungan terhadap kawasan sungai/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk. Kriteria :

  • sepanjang tepian danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat Kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberikan perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Kriteria :
  • Minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.
    •  RAWA :

Lahan genangan air secara alamiah yang terjadi secara terus menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus

TERMASUK DALAM KAWASAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

Kawasan hutan lindung                   Kawasan suaka alam darat

Kawasan bergambut                                        Kawasan mangrove

Kawasan resapan air                                         Taman Nasional

Sempadan pantai                                               Taman hutan raya

Sempadan sungai                                              Taman wisata alam

Kawasan sekitar waduk/danau    Kawasan cagar budaya dan

Kawasan sekitar mata air                      Ilmu pengetahuan

Kawasan suaka alam laut dan perairan Kawasan rawan bencana

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

MORFOLOGI BUAH(DENDROLOGI)

›Morfologi Buah
›Endah Wahyuningsih, S.Hut, MP
›Buah
›Buah adalah organ tumbuhan yg mengandung biji
›Buah  ada yg disebut buah sejati yaitu buah yg terbentuk dr bakal buah
›Buah palsu :
›terbentuk dr bagian lain dr buah (Jambu monyet)
›Buah yg terbentuk dr bakal buah dan bagian bunga lainnya (nanas, apel dll)
›Buah conifer
›Buah Conifer : Buah conifer dpt kering atau berdaging
›Secara Morfologi ada 2 tipe buah conifer yaitu
1.buah yg terdiri dr satu biji yg sebagian   atau seluruhnya tertutup aril (daging biji) Contoh Agathis dammara
2.Buah yg terdiri dr beberapa sisik berkayu atau keras atau bersisik berdaging, msg2 dgn satu biji atau lebih dan tersusun pd sumbu membentuk kerucut (cone) Contoh,Pinus
›Buah Angiospermae
›Buah angiospermae umumnya disebut sbg bakal buah yg masak
›Buah Angiospermae dibagi menjadi :
a.Buah Tunggal : terbentuk oleh 1 putik
b.Buah Majemuk : terbentuk oleh 2 atau lebih putik yg terdpt pd dasar bunga yg sama
›Buah Tunggal
›Buah tunggal ada 3 macam yaitu buah kering tidak merekah, buah kering merekah, buah berdaging.

A.  Buah kering tidak merekah, misalnya

-Buah Longkah (Achene) yaitu buah kecil,berongga dan berbiji satu (Mete)
-Buah keras bersayap, misal meranti (dipterocarpaceae).

-   Buah Keras kecil (nut)

›B. Buah Kering Merekah

B. Buah kering merekah, misal

›legume (polong-polongan)hasil dr putik   tunggal yg merekah sepanjang suture (kampuh)
›Buah Kotak (Capsule), hasil dr putik majemuk merekah melalui 2 atau lebih kampuh (Duabanga)
›
›C. Buah Berdaging
› Buah Pome yaitu Buah empulur , hasil putik  majemuk, dinding luar bakal buah berdaging, dinding dalam menjangat membungkus banyak biji (apel)
›Drupe yaitu buah batu, buah berdaging berbiji satu, biasanya hasil dr putik tunggal, dinding luar berdaging, dinding dlm keras ( Jati)
›Buah buni (Berry) yaitu buah beriji banyak, dinding luar dan dalam berdaging dgn biji-biji terbungkus dlm masa yg seperti bubur (Tomat) Klicung.
›Buah Majemuk
›Buah aggregate yaitu merupakan kumpulan buah tunggal yg berasal dr putik2 terpisah pd bunga yg sama yg terdapat pd dasar bunga persekutuan, Contoh : srikaya, sirsak
›Buah multiple yaitu merupakan kumpulan buah tunggal yg berasal dr putik2, bunga2 yg terpisah-pisah, contoh : nangka, nanas.
›
›Tatanama atau Nomenklatur
›Tatanama atau nomenklatur merupakan juga salahsatu kegiatan di dalam taksonomi. Kegiatan ini mengenai penentuan nama yg benar bagi takson yg telah atau hrs diketahui.
›Di dlm masy kita mengenal bbrpa mcm nama, yaitu nama perdagangan, nama setempat dan nama botani atau nama ilmiah.msg-msg nama memp dsr yg berbeda.
›Pda nama setempat dan nama perdagangan sifat khas yg menonjol pd tumb.tsbt yg dijadikan dsr pemilihan namanya, walupun kmd bbrp di antaranya ada jg yg menggunakan nama ahli botani u.mengenang jasa penemunya.
›
›Beberapa contoh tatanama tumb,berdasarkan :
1.Habitat atau tempat tumbuh, misal meranti rawa atau rawang.
2.Beberapa sifat yg menonjol, misal kayu malam, kayu arang ( keduanya dr fam diospyros), kayu burahol (stelechocarpus burahol), namanya diambil krn bentuk batangnya penuh dgn benjolan tempat bunganya.
3.Lokalitas atau regionalitas tempat tumbuh/penyebaran, misal duku condet, durian kutai, kayu borneo
4.Penggunaan, misal sugarmaple (jenis pohon Acer yg menghasilkan gula).
5.Pengenang jasa atau penghargaan, misal Nuttall oak,dll
›
›

Akan tetapi tatanama di atas seringkali mengacaukan krn terkadang pohon yg sama mendptkan nama yg berlainan atau nama yg sama digunakan u.pohon dr jenis berlainan, misal nama Cemara, sebenarnya u. anggota Casuarina, tetapi dimsy nama cemara digunakan u.pohon pinus.

OKI, u.menghindari itu maka nama botani atau nama ilmiah merupakan nama yg netral dan diharapkan dapat diterima oleh segenap pihak yg bersangkutan dgn dunia tumbuhan.

Nama Ilmiah tumbuhan berdasarkan kepada bahasa bhs latin yg secara universal diketahui dan dikenal oleh pakar-pakar ilmiah. Latin adalah khas dan pasti dalam arti.

›
›
›Karena kepastian dan ketepatan dlm arti itu, mk bhs latin merupakan bhs yg tepat diperlukan bg penamaan suatu jenis tumbuhan.
›Ketepatan dan kepastian arti daripada bahasa Latin itu terletak di dalam penggunaannya menterjemahkan dan mengunagkapkan sesuatu aspek yg dimiliki oleh tumb. yg bersangkutan.
›Nama Ilmiah telah digunakan sejak pertengahan abad 18, yaitu ketika Linnaeus, ahli botani menerbitkan bukunya Species Plantarum (1753).
›Untuk penamaan jenis tumb. Akan terdiri dr 3 suku kata Yaitu suku pertama adalah Genus (nama marga) yg hrs ditulis huruf besar, suku kedua yaitu nama jenis, suku ketiga yaitu nama penuh atau singkatan nama penemu pertama kali jenis tumb. tsb.
›
›Contoh nama Botani jenis pohon:
›Kemiri, nama botani : Aleurites moluccana Willd.
›Durian, nama botani : Durio zibethinus Murv
›Jati, nama botani : Tectona grandis,L.f
›Bayur, nama botani: Pterospermum spp, jenis-jenisnya a.l : P.javanicum Jungh; P celebicum Mig.
›Pulai, nama botani : Alstonia scholaris R.Br
›Sonokeling, nama botani : Dalbergia latifolia Roxb
›Cendana, nama botani : Santalum album L
›Tusam, nama botani : Pinus merkusii Jungh.et de Vriese
›
›

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

DAUN MAJEMUK,(DENDROLOGI)

Daun Majemuk
(Folium Compositum)

Endah Wahyuningsih,S.Hut,MP

Universitas Mataram

Perbedaan Daun Tunggal dan Daun Mejemuk

Daun Tunggal :

pd tangkai daun hanya terdapat satu helaian saja

Daun Majemuk :

tangkai daun bercabang-cabang dan baru pd cabang tdp helaian daunnya shg pd satu tangkai tdp lebih dr satu helaian daun

Ciri-ciri lain Daun Majemuk

Anak daun terjadi bersama-sama dan bila runtuh bersama-sama juga

Anak daun biasanya seumur dan sama besarnya.

Pertumbuhannya terbatas, artinya tdk bertambah panjang lagi dan ujungnya tdk mempunyai kuncup

Pd daun majemuk tdk tdp kuncup dibagian ketiaknya.

Bagian-bagian Daun Majemuk

Ibu tangkai daun (Petiolus communis) adalah bagian daun majemuk yg merupakan tempat duduknya helaian-helaian daunnya, helaian tsbt disebut anak daun (folium)

Tangkai anak daun (petiolum) yi cabang-cabang ibu tangkai yg mendukung anak daun

Anak daun (folium)

Upih daun (hanya pd jenis ttt mis pohon pinang

Menurut susunan anak daun pd ibu tangkai daun dibedakan 4 golongan yi

Daun majemuk menyirip (pinnatus),jika anak daun tersususn seperti sirip di kiri kanan ibu tangkai

Daun majemuk menjari (palmatus),jika anak daun tersusun seperti jari-jari tangan

Daun majemuk bangun kaki (pedatus) seperti daun majemuk menjari tetapi duduknya 2 daun yg ditepi pd tangkai anak daun disebelah dlmnya

Daun majemuk campuran (digitato pinnatus),jika anak daun tersusun menyirip ttpi cabang2 ibu tangkai memencar sprti jari-jari

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

KULTUR JARINGAN

BAB I PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya

Perumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini adalah mengenai pengertian kultur jaringan, membahas teknik serta tahapan pembuatannya dan tentunya akan membahas mengenai kelebihan dan kekurangannya. Telah kita ketahui bahwa kultur jaringan akan membawa pengaruh yang sangat besar sekali bagi pambudidayaan tanaman di masa sekarang ini.

Manfaat Penulisan

Tentunya karya tulis inimemiliki manfaat baik bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut :

    Penulis bisa lebih memahami apa yang dimaksud dengan kultur jaringan beserta hal lainnya menegnai kultur jaringan

    Pembaca bisa mengetahui lebih dekat mengenai kultur jaringan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya.Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil. Kebanyakan orang menggunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem keadaannya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan.

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.


  1. B.   Teori Dasar Kultur Jaringan

    1. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan  sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel).
    2. b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.
  2. C.  Aplikasi Teknik Kultur Jaringan dalam Bidang Agronomi
    1. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).
    2. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus
    3. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen /Rekayasa Genetika Tanaman dll).
    4. Produksi metabolit sekunder.
  3. D.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi

1.  Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll

2. Eksplan ,adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.

3.  Media Tumbuh, Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media yang sering digunakan secara luas adalah MS.

4.  Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P, Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC.

5. Lingkungan Tumbuh. Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan ukuran wadah kultur.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur   jaringan adalah :
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Biasanya, komposisi media yang digunakan adalah sebagai berikut :

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.

Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.

TEKNIK KULTUR JARINGAN     :

  • Teknik kultur jaringan sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah yang besar.
  • Keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.
  • Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel sperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi.

Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dilingkungan yangsesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna.Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik

Syarat-syarat yang Diperlukan              :

  • Pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus
  • Penggunaan medium yang cocok

KEUNTUNGAN PEMANFAATAN KULTUR JARINGAN

  • Pengadaan bibit tidak tergantung musim
  • Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat  (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
  • Bibit yang dihasilkan seragam
  • Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
  • Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
  • Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan  lainnya
  • Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
  • Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa

KEKURANGAN PEMANFAATAN KULTUR JARINGAN

  • Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.
  • Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium  khusus), peralatan dan perlengkapan.
  • Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan
  • Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh


DAFTAR PUSTAKA

             

http://id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan

http://nicedaysblue.web.id/index.php/my-project/39-science-and-tech/62-kultur-jaringan

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081029045234AAwuqCD

 

BAB I PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya

Perumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini adalah mengenai pengertian kultur jaringan, membahas teknik serta tahapan pembuatannya dan tentunya akan membahas mengenai kelebihan dan kekurangannya. Telah kita ketahui bahwa kultur jaringan akan membawa pengaruh yang sangat besar sekali bagi pambudidayaan tanaman di masa sekarang ini.

Manfaat Penulisan

Tentunya karya tulis inimemiliki manfaat baik bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut :

    Penulis bisa lebih memahami apa yang dimaksud dengan kultur jaringan beserta hal lainnya menegnai kultur jaringan

    Pembaca bisa mengetahui lebih dekat mengenai kultur jaringan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya.Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil. Kebanyakan orang menggunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem keadaannya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan.

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.


  1. B.   Teori Dasar Kultur Jaringan

    1. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan  sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel).
    2. b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.
  2. C.  Aplikasi Teknik Kultur Jaringan dalam Bidang Agronomi
    1. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).
    2. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus
    3. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen /Rekayasa Genetika Tanaman dll).
    4. Produksi metabolit sekunder.
  3. D.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi

1.  Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll

2. Eksplan ,adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.

3.  Media Tumbuh, Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media yang sering digunakan secara luas adalah MS.

4.  Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P, Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC.

5. Lingkungan Tumbuh. Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan ukuran wadah kultur.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur   jaringan adalah :
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Biasanya, komposisi media yang digunakan adalah sebagai berikut :

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.

Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.

TEKNIK KULTUR JARINGAN     :

  • Teknik kultur jaringan sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah yang besar.
  • Keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.
  • Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel sperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi.

Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dilingkungan yangsesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna.Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik

Syarat-syarat yang Diperlukan              :

  • Pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus
  • Penggunaan medium yang cocok

KEUNTUNGAN PEMANFAATAN KULTUR JARINGAN

  • Pengadaan bibit tidak tergantung musim
  • Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat  (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
  • Bibit yang dihasilkan seragam
  • Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
  • Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
  • Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan  lainnya
  • Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
  • Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa

KEKURANGAN PEMANFAATAN KULTUR JARINGAN

  • Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.
  • Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium  khusus), peralatan dan perlengkapan.
  • Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan
  • Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh


DAFTAR PUSTAKA

             

http://id.wikipedia.org/

 

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

BAHAN AJAR ILMU KAYU

*ILMU KAYU
*OLEH
*FEBRIANA TRI WULANDARI
*UNIVERSITAS MATARAM
*
*PENDAHULUAN
*PERTEMUAN KE 1
*
Ciri-ciri tumbuhan berkayu
1.Vasculer artinya memiliki jaringan pengangkutan (konduksi) yang terdiri atas xylem dan phloem
2.Perennial artinya umurnya beberapa tahun
3.Tumbuhan itu mempunyai batang yg hidup dari tahun ke tahun.  Banyak tumbuhan perennial yang mati batangnya pada tiap musim gugur dan hidup dengan akar saja pada musim dingin.  Akar ini menghasilkan batang baru dimusim semi.  Tumbuhan ini tidak termasuk tumbuhan berkayu.  Tetapi ada tumbuhan yg batangnya menjalar tetapi karena batangnya hidup terus maka tumbuhan ini termasuk tumbuhan berkayu
4.Mengalami penebalan sekunder artinya mengalami penambahan riap diameter pada batangnya.  Penambahan diameter ini dilakukan oleh lapisan kambium yang terletak antara kulit (phloem) dan kayu (xylem).  Setiap tahun kambium akan membentuk kulit dan kayu baru yang disisipkan diantara kulit dan kayu yang tua, dgn cara inilah batang pohon makin lama makin besar.
*
*Macam-macam tumbuhan berkayu
1.Pohon adl tumbuhan yang dapat mencapai tinggi paling sedikit  7 m (20 ft) dan biasanya (tdk selalu) memiliki batang tunggal
2.Semak/perdu adl tumbuhan berkayu yg tingginya jarang sekali lebih dari 7 m dan biasanya selalu memiliki beberapa batang
3.Liana berkayu adl tumbuhan memanjat dgn menggunakan alat2x yg berbeda, banyak terdapat dihutan tropika (contohnya rotan).
*
*KEUNGGULAN ORDO CONIFERALES
DLM PERDAGANGAN KAYU
1.MUDAH DLM PEMUNGUTAN KARENA TEGAKAN CONIFER BIASANYA HIDUP BERKELOMPOK DALAM TEGAKAN MURNI/SEJENIS
2.TERLETAK DIDAERAH IKLIM SEDANG DGN INDUSTRI YG TELAH MAJU
3.RENDEMENNYA TINGGI KRN BATANGNYA LURUS DARI PANGKAL SAMPAI UJUNG BATANG
4.LEBIH SERBA GUNA DARIPADA KAYU DAUN
*
*
*
*DALAM DUNIA PERDAGANGAN KAYU DIKENAL 2 GOLONGAN KAYU YAITU :
*
1.SOFT WOOD DARI CONIFERALES GYMNOSPERMAE
2.HARD WOOD DARI DICOTILEDONAE ANGIOSPERMAE
*
*
*NILAI EKONOMI DARI BERBAGAI JENIS KAYU TERGANTUNG DARI BEBERAPA FAKTOR ANTARA LAIN :
1.UKURAN POHON
2.KUALITA POHON
3.KUALITAS POHON
4.ASSESSIBILITAS
5.KEMAJUAN TEKNOLOGI
6.SITUASI EKONOMI DARI NEGARA YG BERSANGKUTAN
*SIFAT-SIFAT UMUM KAYU
1.Berasal dari pohon yg senantiasa vertikal
2.Terdiri dari 3 unsur kimia :
a.Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
b.Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin
c.Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif
3.Bersifat anisotropis

Memiliki 3 bidang orientasi (radial, tangensial dan transversal/longitudinal

4.Bersifat hygroskospis

Mudah menyerap dan melepaskan air

*
*IDENTIFIKASI KAYU
*PERTEMUAN KE 2
*
*Metode pengenalan jenis yg praktis dan ilmiah adl suatu metode pengenalan jenis berdasarkan kepada sifat2x struktur anatominya
*Sifat anatomi suatu jenis kayu adl merupakan sifat yg obyektif yg secara konstan terdapat didlm kayu
*Sifat2x obyektif kayu dapat diamati dgn 2 cara :
1.Makrokospis (pengamatan dgn kasat mata)
2.Mikrokospis (pengamatan dgn menggunakan mikroskop)
*BIDANG ORIENTASI KAYU
*Bidang orientasi kayu adl bidang pembantu yg diperlukan dlm pengenalan jenis kayu shg diperoleh kesan yg sebenarnya dari sifat atau tanda2x yg diperlukan utk pengenalan kayu.
*Bidang orintasi kayu terdiri dari 3 bidang :
1.Bidang tangensial : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu tegaklurus salah satu jari-jari kayu, searah serat, tidak melalui sumbu kayu.
2.Bidang radial : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu searah serat melalui sumbu kayu.
3.Bidang aksial: bidang yang diperoleh dengan memotong kayu tegaklurus dengan sumbu kayu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*BAGIAN-BAGIAN KAYU
*PERTEMUAN KE 3 dan 4
*
*
*Xylem terbagi atas dua bagian yaitu :
1.Kayu teras adl bagian kayu yg terletak dekat empulur dan biasanya berwarna lebih gelap, secara fisiologis selnya sudah mati, fungsinya hanya sebagai kekuatan mekanik
2.Kayu gubal adl bagian kayu yg dekat dengan kulit dan biasanya berwarna lebih  terang dibandingkan kayu teras, karena selnya masih hidup.  Fungsinya sebagai penyalur air zat2x yg terlarut dari akar ke tajuk, penyimpan makanan dan sebagai kekuatan kayu
*Phloem terbagi atas dua bagian :
1.Kulit dalam adalah kulit yg terletak dibagian dalam dan berwarna lebih muda
2.Kulit luar adalah kulit yg terletak dibagian luar dan berwarna lebih gelap dari dari kulit dalam
*Lingkaran tahun
*Pertambahan kayu dalam suatu periode pertumbuhan disebut riap pertumbuhan.
*Riap pertumbuhan akan nampak jelas pada daerah iklm sedang sedangkan pada daerah tropika kurang nampak dengan jelas, hal ini disebabkan pada daerah tropika perbedaan musimnya tidak jelas.
*Riap pertumbuhan nampak sebagai lingkaran tahun pada penampang transversal/longitudinal.
*Lingkaran tahun dapat berguna utk menaksir umur pohon.
*Riap pertumbuhan nampak jelas karena intensitas pertumbuhan dan kerapatan kayu yg dihasilkan sepanjang periode pertumbuhan tidak jelas
*Pembentukan kayu pada permulaan musim tumbuh berjalan dgn cepat dan semakin perlahan mendekati akhir musim tumbuh.
*Musim tumbuh pada daerah musim sedang dimulai pada musim semi dan diteruskan hingga akhir musim panas
*
*

Kayu yg dibentuk pada awal musim semi disebut

kayu musim semi (springwood) atau kayu awal

(early wood), Sifat2x kayu awal antara lain :

1.Sangat porous, karena sel2xnya berongga besar
2.Berdinding tipis dan umumnya relatif pendek
3.Berat jenisnya rendah
4.Diameter selnya relatif lebih besar
5.Berfungsi utk konduksi (pengangkutan zat makanan)

Kayu yg mendekati akhir musim tumbuh disebut

kayu musim panas atau kayu akhir (late wood),

lebih rapat shg warnanya lebih gelap. Sifat2x

kayu akhir antara lain :

1.Sel2xnya kecil
2.Dinding sel tebal
3.Rongga sel sempit
4.Lebih panjang selnya daripada kayu awal
5.Berfungsi sebagai penguat batang
*Kesan adanya lingkaran pertumbuhan pada kayu2x tropika mungkin disebabkan karena adanya parenkim terminal.
*Istilah lingkaran pertumbuhan lebih tepat digunakan karena kita tidak dapat memastikan apakah dalam satu tahun terbentuk satu lingkaran tahun.
*
*Lebar lingkaran tahun
*Lebar lingkaran pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain :
1.species

Lebar lingkaran tahun setiap species berbeda bahkan dalam satu batang antara bagian pangkal, tengah dan ujung

2. kecepatan pertumbuhan

pohon2x yg cepat tumbuh mempunyai lebar lingkaran tumbuh yg lebih lebar

3. tempat tumbuh

pada tempat tumbuh yg sama dan umur yg sama lebar lingkaran

pertumbuhan tergantung pada kelas tajuk.pohon yg terindung mempunyai

lebar lingkaran pertumbuhan yg lebih sempit.

pohon yg suka akan lembab mempunyai lebar lingkaran pertumbuhan yg

lebih sempit apabila tumbuh ditempat yang kering.

Pohon yg tumbuh ditanah lumpur lebar lingkaran pertumbuhannya lebih

lebar dibandingkan di tanah rawa yg kering

4. Letak lingkaran pertumbuhan dalam batang

makin tinggi dalam batang lingkaran pertumbuhan makin lebar

makin jauh dari empulur lingkaran pertumbuhan makin sempit

5. Toleransi pohon thd cahaya

pohon yg toleran (tahan teduh) mempunyai variasi lingkaran pertumbuhan yg lebih banyak daripada pohon2x yg suka cahaya

*
*
*
1.Lingkaran tahun normal adalah lingkaran yang pertumbuhan yang terbentuk tiap tahun dan melingkar secara penuh.
2.Lingkaran tahun abnormal adalah lingkaran tahun yg terputus yg disebabkan karena kambium pada suatu periode pertumbuhan tertentu suatu bagian atau beberapa bagian berhenti tumbuh (istirahat) sedangkan bagian yg lain masih tetap bekerja seperti biasa.Sebenarnya kambium ts tidak mati hanya beristirahat utk satu musim tumbuh atau lebih hal ini mungkin disebabkan karena kekurangan makanan, pertumbuhan tajuk yg sepihak atau mungkin karena faktor2x yg lain

Lingkaran tahun abnormal banyak terdapat pada pohon2x tua yg besar dan

miskin riap dan mungkin juga terdapat pada pohon muda terutama dalam

species dgn lingkaran tahun yg sempit.

3.Lingkaran tahun semu (false ring) adalah lingkaran tahun yg terbentuk pada lingkaran tahun sejati dan ini seringkali menyebabkan kekeliruan dalam penghitungan jumlah lingkaran tahun. Lingkaran tahun semu ini mirip kayu akhir dalam bentuk kerapatannya tetapi lingkaran ini kearah luar mirip diikuti jaringan yg mirip dgn kayu awal, kemudian baru dibentuk kayu akhir.

Lingkaran tahun semu dapat dibedakan lingkaran tahun sejati karena

peralihannya yg perlahan2x kedalam kayu awal yg porous

*
*
*
*Jari-jari kayu
*Jari-jari kayu adalah lembaran2x atau pita2x jaringan horisontal yg seolah2x berasal dari permukaan luar kayu (dekat kulit) dan menuju kearah batang (hati)
*Fungsinya sebagai tempat saluran bahan makanan yg mudah diproses di daun guna pertumbuhan pohon
*
*Klasifikasi jari2x berdasarkan ukurannya
1.Jari2x sangat halus/lembut
2.Jari2x halus
3.Jari2x sedang (menengah)
4.Jari2x besar
*Adanya jari2x didalam kayu bisa satu ukuran atau 2 ukuran, tetapi ada juga yg berukuran sama/seragam dan sangat teratur, tipe jari2x ini disebut jari2x bertingkat
*Jari2x pada kayu daun lebar jumlah dan ukurannya sangat beraneka ragam tetapi pada kayu daun jarum hanya satu ukuran dan kecil2x
*
*
*Parenkim kayu
*Parenkim kayu adal sel yg berfungsi utk menyimpaan makanan
*Letaknya pada kayu gubal, bentuk selnya pendek, krn tidak berfungsi sebagai pengangkutan
*Parenkim kayu terdiri atas 3 macam:
1.Parenkim jari2x
2.Parenkim  longitudinal
3.Parenkim epitel
*Jari2x hampir seluruhnya terdiri dari parenkim
*
*Klasifikasi parenkim berdasarkan letaknya thd pembuluh
*
*Pembuluh (pori2x) kayu
*Saluran pembuluh terdiri atas sel2x pembuluh yg tersusun dalam seri vertikal sejajar sumbu pohon dan memanjang sampai tinggi tertentu dlm batang
*Pembuluh (pori2x) yg terbentuk pada awal musim tumbuh mempunyai diameter lebih besar dan dinding lebih tipis daripada pori2x yg dibentuk mendekati akhir musim tumbuh
*KLASIFIKASI PORI2X BERDASARKAN PERALIHAN BAESARNYA PORI2X DARI KAYU AWAL KE KAYU AKHIR
1.Susunan pori tata lingkar : peralihannya mendadak
2.Susunan pori tata lingkar semu =tata baur semu :    peralihannya berangsur2x
3.Susunan pori tata baur :    tidak ada perbedaan ukuran pori kayu awal dan kayu akhir
*
*
*
*
*
*Klasifikas pori2x berdasarkan penyebaran pori pada penampang melintang kayu
1.Tunggal
2.Baris radial
3.Berganda radial
4.Baris miring
5.Baris tangensial
6.berkelompok
*Klasifikasi pori2x berdasarkan ukurannya
*Klasifikasi ukuran pori2x menurut Dadswell dan Becker
1.Lembut (100 µ) = halus sekali
2.Kecil (100-200 µ) =halus
3.Sedang (200-300 µ) = sedang
4.Besar (300 µ) = kasar
*Klasifikasi ukuran pori2x menurut Chattaway
1.Sangat sedikit (2 per mm2)
2.sedikit (2-5 per mm2)
3.Agak banyak (5-10 per mm2)
4.Cukup banyak (10-20 per mm2)
5.Banyak (20-40 per mm2)
6.Banyak sekali (lebih dari 40 per mm2)
*Tilosis
*Tilosis terdapat dalam pembuluh kayu teras, bentuknya seperti buih yg biasanya mengkilat, disebabkan perbedaan refleksi dinding pembuluh dan dinding tilosis yg tipis.
*Dalam pembuluh kayu teras selain terisi oleh tilosis dapat juga terisi oleh endapan padat atau seperti getah
*Tilosis adl tonjolan2x yg tumbuh dari sel2x parenkim kayu atau sel2x parenkim jari2x masuk dalam pembuluh
*Terbentuknya tilosis disebabkan karena perbedaan tekanan antara sel2x parenkim dan pembuluh2x kayu yg berdekatan
*Saluran damar/latex
*Saluran damar terutama terdapat pada kelompok kayu daun jarum, walaupun pada jenis kayu daun sering juga ada.
*Misalnya : kayu pinus, meranti, keruing, pulai dsb
*
*Menurut terjadinya saluran damar dibagi 3 :
1.Saluran damar yg terjadi secara schizogen
2.Saluran damar yg terjadi secara lisigen
3.Saluran damar yg terjadi secara schizolisigen
*Menurut letak/arahnya dalam kayu ada 3 yaitu :
1.Saluran damar aksial/longitudinal
2.Saluran damar tangensial/konsentrik
3.Saluran damar radial
*Misalnya : Dipterocarpaceae sp = aksial
*Shorea = konsntrik
*Pinus = tersebar, gabungan
*Pulai = berbentuk lobang (arah radial/aksial)
*Serabut/trakeid
*Sel serabut merupakan sel yg paling kecil didalam kayu daun lebar.  Didalam kayu daun jarum fungsi dan kedudukannya sel serabut digantikan oleh trakeid.
*Serabut pada kayu daun lebar jumlahnya 50%dari volume kayu
*Trakeid pada kayu daun jarum jumlahnya 90% dari volume kayu
*Serabut kayu sukar diamati secara makrokospis karena selnya yg sangat kecil, shg kurang membantu dalam pengamatan makrokospis
*2 fungsi penting dari serabut/trakeid :
*1.  penentu arah serah
*2.  penentu ukuran serat kayu (penting dalam kaitannya kegunaan kayu utk pulp dan kertas)
*Serat kayu
*Serat kayu adl arah serabut2x kayu terhadap sumbu pohon.
*Arah serat kayu dibedakan :
1.Serat lurus : apabila arah unsur2x kayu tsb sejajar thd sumbu longitudinal
2.Serat miring : apabila arah unsur2x kayu tsb miring (bersudut) thd sumbu longitudinal pohon
*Serat miring dibedakan :
1.Serat diagonal
2.Serat terpuntir
3.Serat berombak
*
*Gelam tersisip
*Gelam tersisip adl kulit yg terdapat dalam kayu (xylem).
*Jaringan gelam tersisip ini dapat berupa
1.Deretan tangensial yg tdk terputus
2.Sbg kelompok yg tersebar
*
Tekstur
*Tekstur berhubungan dgn ukuran dan kualitas unsur2x kayu
*Tekstur kayu dapat bertekstur halus, kasar, rata, tak rata, licin, tak licin dsb
*Tekstur dapat digunakan utk menentukan mudah tidaknya kayu dikerjakan dgn alat
*Kayu mudah dikerjakan karena karena kehalusan dan kerataan permukaannya juga karena kekompakannya yg disebabkan kualitas sel2xnya (berdinding tebal).
*
*KAMBIUM
*Kambium merupakan jaringan yg lapisannya tipis dan bening, melingkari kayu, kearah luar membentuk kulit baru menggantikan kulit lama yg telah rusak dan kearah dalam membentuk kayu yg baru.
*Kambium terletak antara kulit dalam dan kayu gubal
*HATI (EMPULUR)
*Hati merupakan bagian kayu yg terletak pada pusat lingkaran tahun
*Hati berasal dari kayu awal yaitu bagian kayu yg pertama kali dibentuk oleh kambium. Oleh karena itu mempunyai sifat rapuh atau sifat lunak
*KAYU DAUN LEBAR
*bentuk daunnya lebar
*Tajuk besar dan membundar
*Menggugurkan daun
*Pertumbuhan lambat
*Batangnya tidak lurus dan berbonggol
*Umumnya memiliki kayu lebih keras
*KAYU DAUN JARUM
*Bentuk daunnya seperti jarum
*Tajuknya berbentuk kerucut
*Umumnya tidak menggugurkan daun, kecuali beberapa jenis pohon saja
*Pertumbuhan sangat cepat dan lurus keatas
*Umumnya memiliki kayu lunak dan ringan
*KAYU DAUN LEBAR
•Pembuluh (ada, nampak)
•Serabut (ada, Tak nampak)
•Parenkim (ada, nampak)
•Jari2x (beraneka ragam dpt 1 atau 2 ukuran)
•Saluran damar (tidak selalu ada)
*  KAYU DAUN JARUM
*Trakeid (ada, tak nampak)
*Jari2x (biasanya kecil dan satu ukuran)
*Saluran damar (sebagian besar ada)
*
*
*
*SIFAT FISIK KAYU
*PERTEMUAN KE 6
*Sifat fisik kayu
*Sifat fisik kayu tdk sama dgn sifat sifat fisika kayu.
*Sifat fisik berhubungan dgn kesan yg diperoleh oleh pancaindera kita apabila kita melihat, membau, meraba dsb thd kayu tsb
*Sifat fisik yg penting utk identifikasi kayu a.l :
*Berat jenis
*Keawetan alami kayu
*Tekstur
*Serat
*Nilai dekoratif
*Warna kayu
*Kesan raba
*Kilap kayu
*Kekerasan
*Berat kayu
*Bau dan rasa kayu
*
*BERAT JENIS
*Berat jenis kayu merupakan petunjuk untuk menentukan kuat tidaknya suatu kayu.
*Semakin berat kayu maka semakin tinggi kekuatannya.
*Berat jenis kayu berkisar antara 0,2 – 1,28
*Berat jenis kayu ditentukan oleh:
1.Tebal dinding sel
2.Besar kecilnya rongga sel yang membentuk pori2x
*Berat jenis kayu ditentukan dari perbandingan antara berat suatu volume kayu dengan volume air yg sama pada suhu standar
*KEAWETAN ALAMI KAYU
*Keawetan alami kayu adalah ketahanan kayu thd serangan unsur2x perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk, cacing laut dan makhluk lainnya yg diukur dgn jangka waktu tahunan.
*Keawetan kayu terjadi karena adanya yang bersifat racun yang terdapat didalam kayu yaitu ekstraktif misalnya pada kayu jati terdapat tectoquinon, ulin terdapat silika dll
*Ekstraktif terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras, oleh karena itu kayu teras lebih awet dibandingkan dgn kayu gubal.  Dan juga kayu gubal masih dalam masih pertumbuhan sehingga sangat mudah diserang oleh serangga perusak kayu
*
*Warna kayu
*Warna kayu adl warna dari kayu asli (kayu teras), dan dpt dilihat pada goresan/bidang baru yg belum kena pengaruh air, matahari dll pengaruh dalam waktu yg lama
*Kayu gubal umumnya berwarna lebih muda seperti : putih, kuning, coklat muda sedangkan kayu teras berwarna lebih tua seperti : coklat, coklat kemerahan, hitam, kuning tua dsb
*Cara merubah warna kayu adalah :
1.Mencampurkan zat warna dgn filler (bhn pengisi pori2x)
2.Menggunakan bahan kimia (staining/beiszen)
3.Pengecatan dgn senyawa aniline atau sejenisnya (dyeig)
4.Menggunakan pelitur minyak/alkohol (Vernish)
5.Dgn perendaman dlm air yg lama
6.Serangan jamur
*
*Ada beraneka macam warna kayu, antara lain kuning, keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kehitam-hitaman, kemerah-merahan dll.
*Warna tersebut disebabkan oleh zat-zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda. Warna suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh :
*1.  Tempat dalam batang;
*2.  Umur pohon;
*3.  kelembaban udara.
*Kayu teras umumnya memiliki warna kayu lebih gelap dari pada warna bagian kayu disebelah luar kayu teras, yaitu kayu gubal.
*Pada umumnya warna sesuatu jenis kayu bukanlah warna murnni, tetapi warna campuran beberapa jenis warna. Kadangkala terdapat satu warna mencolok dengan kombinasi warna-warna lain yang sukar dipisahkan,
*contoh: kayu yang berwarna putih misalnya jelutung, yang berwarna merah misalnya kempas, renghas, dll.
*HIGROSKOPIK
*HIGROSKOPIK ADALAH DAYA MENYERAP DAN MELEPASKAN AIR ATAU KELEMBABAN
*EMC ADALAH KEMAMPUAN
*Kesan Raba
*Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu
*Makin kasar struktur kayu makin berkurang kesan licinnya
*Beberapa kayu yg memilki kesan licin berhubungan dgn kandungan lemaknya antara lain :jati,calimuli,lignumivitas
*Kayu yang memilki ekstratif : kayu renghas
*Kesan raba sifatnya sangat subyektif sehingga jarang dijadikan sebagai tanda pengenal
*Kilap (luster)
*Kilap adalah sifat dari kayu itu utk memantulkan cahaya
*Kilap kayu sangat tergantung :
1.anatomi kayu
2.Kandungan zat infiltrasi(ekstraktif)
3.Bidang pemeriksaan dari sudut datangnya sinar
4.Kandungan air
*Contoh : Kayu damar lebih berkilap darikayu salimuli
*Utk mengamati kilap kayu harus dari bidang belah dlm kondisi kering udara
*Bau dan Rasa Kayu
*Bau dan rasa merupakan dua sifat yg sulit digambarkan karena masing-masing memilki sifat
*Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka.
*Hal ini disebaban ektraktif yg mudah menguap dan kegiatan jasad renik (bakteri,jamur dll)
*Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.
*Berat kayu
*Berat kayu dinyatakan dalam berat jenis
*Berat kayu tergantung pada :
1.Banyaknya zat kayu
2.Zat2x infiltrasi dalam kayu
3.Kandungan air
*Untuk menentukan berat kayu dilakukan dgn cara apung yaitu dgn memasukan potongan kayu ke dalam air dan mengamati berapa bagian yg terendam.
*Dalam uji menggunakan contoh uji berbentuk kubus :
1.¼ nya terendam = ringan= berat 16 lbs/cuft
2.½ nya terendam = sedang = 32 lbs/cuft
3.¾ nya terendam = berat = 47 lbs/cuft
4.Tenggelam         = berat sekali = berat 47 lbs/cuft
*Kekerasan
*Kekerasan yang dimaksud adalah kesan yg diperoleh apabila seseorang mengiris kayu dengan pisau atau menekan dgn kuku.
*Kayu yg berat umumnya adalah kayu yg keras, sebaliknya kayu yg ringan umumnya kayunya lunak
*Kekerasan kayu sgt dipengaruhi oleh kadar air, oleh karena itu dalam pengujian kekerasan kayu, sample kayu yg akan diuji harus dalam kondisi kering udara
*Cara pengujian sifat fisik yg lain yg dapat membantu utk identifikasi
*1.  Pengujian sifat zat infiltrasi
*Pengujian ini dgn cara memasukan sepotong kecil kayu ke dalam tabung reaksi yg terisi air dan dikocok (froth test) akan menghasilkan buih.
*Cara ini dapat membedakan antara kayu mangir dengan kayu puspa, atau antara kayu rasamala dgn kayu puspa
*2. Pengujian ekstrak air
*Pengujian ini dengan cara membandingkan warna ekstrak kayu misalnya ekstrak kayu sonokembang berwarna biru, kayu pasang berwarna hitam kehijauan
*3.  Pengujian abu (test abu)
*Pengujian abu adalah pengujian dengan cara membakar sample kayu seukuran lidi kemudian dibakar dalam udara yg tenang, sisa dari pembakaran dicatat dan digolongkan kedalam :
1.Arang (charcoal), kayu terbakar dgn pelan dan sukar, meninggalkan arang dgn cerat abu yg berwarna hitam atau abu2x
2.Abu sempurna (complete of full), terbakar menjadi abu tetapi masih tinggal dalam bentuk semula
*Dalam pengujian abu diamati juga :
1.Warna abu
2.Sifat2x pembakaran (mengeluarkan suara gemeritik/tidak, bau yg timbul)
*
*SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU
*PERTEMUAN KE 7
*Sifat Fisika Kayu
*Sifat fisika kayu adalah sifat-sifat asli dari kayu (wood inheren factors) yang dapat berubah-rubah karena adanya pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban udara).
*Sifat fisika kayu adalah kadar air, berat jenis, kerapatan dan pengembangan penyusutan kayu
*Kadar Air
*Kadar air kayu adalah banyaknya air yang terdapat di dalam kayu atau produk kayu biasanya dinyatakan secara kuantitatif dalam persen (%) terhadap berat kayu bebas air atau berat kering tanur (BKT), namun dapat juga dipakai satuan terhadap berat basahnya. Berat kering tanur dijadikan sebagai dasar karena berat kering tanur merupakan indikasi dari jumlah substansi/bahan solid yang ada
*Kadar air = BB-BKT  x  100%

BKT

Dimana :       BB = berat basah

BKT = berat kering tanur

*
*Perlu diingat bahwa apabila menghitung kandungan air, banyaknya air dinyatakan sebagai suatu persen berat kayu kering tanur. Metode penghitungan kandungan air ini adalah standar yang diterima untuk semua kayu gergajian, kayulapis, papan partikel, dan produk produk papan serat di Amerika Serikat dan di sebagian besar dunia.
*Tetapi dalam industri pulp dan kertas serta untuk kayu yang digunakan sebagai bahan bakar banyaknya air sering dinyatakan sebagai persen berat total yaitu berat kayu ditambah airnya. Dalam praktek hasil hasil hutan secara umum, apabila dasar untuk menghitung kandungan air tidak diberikan/dinyatakan maka dapat dianggap atas dasar berat kering tanur. Apabila dasar berat basah digunakan, harus ditunjukkan sebagai kandungan air (atas dasar berat basah).
*Persamaan dasar untuk kandungan air dapat diubah ke bentuk bentuk yang mudah untuk digunakan di dalam situasi-¬situasi yang lain. Misalnya, memecahkan persamaan untuk berat kering tanur apabila berat basah diketahui yaitu menggunakan rumus :
*BKT=berat basah / {1+(%KA/100)}
*Jika air berhubungan dengan kayu baik kayu hidup maupun kayu dalam pemakaian, maka sesudah dinding sel jenuh dengan air akhirnya rongga sel akan terisi air bebas. Kadar air maksimum akan tercapai apabila semua rongga dalam dinding sel telah jenuh air dan rongga sel penuh dengan air.
*Kerapatan
*Kerapatan suatu benda yang homogen adalah massa atau berat persatuan volume, sehingga kerapatan selalu dinyatakan dengan satuan gram/cm3 atau kg/m3. Massa atau berat dan volume pada perhitungan kerapatan kayu dapat menggunakan berbagai macam kondisi kayu (kondisi segar/basah, kering udara, kadar air tertentu dan kering tanur)
*Kerapatan    =    M     (g/cm3)

V

*Berat jenis
*Berat jenis tidak bersatuan (unitless) karena merupakan perbandingan berat benda terhadap berat dari volume air yang sama dengan volume benda yang diukur atau
*dapat juga didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan kayu (atas dasar berat kering tanur dan volume pada berbagai kondisi kayu) terhadap kerapatan air pada suhu 40C.
*BJ = kerapatan kayu

kerapatan air

*Faktor2x yg menentukan variasi kerapatan
*letaknya di dalam pohon,
*letak dalam kisaran spesies tersebut,
*kondisi tempat tumbuh,
*sumber sumber genetik
*Pengembangan dan penyusutan
*Penyusutan kayu merupakan Penyusutan dinding sel terjadi saat molekul‑molekul air terikat melepaskan diri dari molekul‑molekul selulosa berantai panjang dan molekul-­molekul hemiselulosa yang kemudian bergerak saling mendekat. Banyaknya penyusutan yang terjadi umumnya sebanding dengan jumlah air yang keluar dari dinding sel.
*Pengembangan secara sederhana adalah kebalikan proses ini.
*Penyusutan dan pengembangan dinyatakan sebagai persen dimensi sebelum perubahan terjadi.
*% penyusutan = pengurangan dalam dimensi atau volume x 100

dimensi atau volume awal
% pengembangan = pertambahan dalam dimensi atau volume x 100

dimensi atau volume awal)

*
*
*Biasanya penyusutan longitudinal terjadi dalam pengeringan dari keadaan segar ke kering tanur dengan besar sekitar 0,1‑0,2 % untuk kebanyakan spesies dan biasanya jarang melebihi 0,4%.
*penyusutan tangensial justru terjadi lebih besar daripada penyusutan radial dengan kisaran antara satu setengah sampai tiga berbanding satu atau (1,5 – 3) : 1.
*Beberapa ciri anatomis diduga menjadi penyebab perbedaan ini, termasuk adanya jaringan parenkim jari‑jari, penoktahan yang rapat pada dinding radial, dominasi kayu musim panas/kayu akhir (latewood) dalam arah tangensial serta perbedaan‑perbedaan dalam jumlah zat dinding sel secara radial terhadap tangensial.
*
*Beberapa ciri anatomis diduga menjadi penyebab perbedaan ini, termasuk adanya jaringan parenkim jari‑jari, penoktahan yang rapat pada dinding radial, dominasi kayu musim panas/kayu akhir (latewood) dalam arah tangensial serta perbedaan‑perbedaan dalam jumlah zat dinding sel secara radial terhadap tangensial.
*
*Variasi dalam penyusutan contoh‑contoh uji yang berbeda pada spesies yang sama dan dibawah kondisi yang sama terutama disebabkan tiga faktor yaitu:
1.Ukuran dan bentuk potongan kayu. Ini mempengaruhi orien­tasi serat dalam potongan dan keseragaman kandungan air di seluruh bagian tebal.
2.Kerapatan contoh uji. Semakin tinggi kerapatan contoh uji semakin banyak kecenderungannya untuk menyusut.
3.Laju pengeringan contoh uji. Di bawah kondisi penge­ringan yang cepat, tegangan internal dapat terjadi karena perbedaan penyusutan. Hal ini sering mengakibatkan penyusutan akhir yang lebih kecil daripada kalau hal tersebut tidak terjadi, namun sebaliknya sejumlah spesies menyusut lebih banyak dari kondisi normal apabila dikeringkan di bawah kondisi suhu tinggi
*
*Sifat mekanika kayu
*Sifat mekanika kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan atau melawan beban-beban yang datang dari luar.
*Yang dimaksud dengan beban dari luar yaitu gaya-gaya diluar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah bentuk dan besarnya benda. Kekuatan kayu memegang peranan penting dalam penggunaan kayu terutama sekali untuk bangunan, oleh karena itu hampir pada semua pengguna kayu dibutuhkan syarat kekuatan.
*Sifat Mekanik Kayu
*Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu.
*Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :
*Keteguhan tarik sejajar arah serat dan
*Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.
*Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat.  Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.
*Sifat mekanika kayu
*Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :
1.Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
2.Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
*Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.
*
*
*Sifat mekanika kayu
*Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya.  Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
1.Keteguhan geser sejajar arah serat
2.Keteguhan geser tegak lurus arah serat
3.Keteguhan geser miring
*Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat
*
*Sifat mekanika kayu
*Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan.  Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
*Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.
*Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak.
*
*Sifat mekanika kayu
*Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas
*Sifat mekanika kayu
*Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian
*Sifat mekanika kayu
*Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu.
*Sifat mekanika kayu
*Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu.  Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.
*Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2.  Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :
1.Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.
2.Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.
*
*Komposisi Dasar Kayu
*Kayu tersusun dari carbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dgn komposisi sbb :
*1.  carbon  =  50%
*2.  oksigen  =  44%
*3.  hidrogen  =  6%
*4.  sebagian kecil nitrogen
*KIMIA KAYU
*PERTEMUAN KE 10
*
*
*Kandungan Kayu
*1.  Sellulosa
*Berfungsi sbg zat kerangka yg memberikan kekuatan yg tinggi thd struktur kayu yg kompleks
*2.  Hemicellulosa
*Fungsinya dalam kayu masih belum jelas tetapi biasanya masih berhubungan dgn hemicellulosa
*3.  Karbohidrat
*Terdiri dari tepung dan pectin (zat warna)
*4.  Lignin
*Berfungsi menegakan kayu , menjadikan pertumbuhan lurus keatas
*5.  Ekstraktif
*Berfungsi sebagai pengawet alami kayu
*6.  Abu
*Jumlahnya sedikit terdiri atas komponen anorganik (silika,karbonat)
*
*sellulosa
*Sellulosa merupakan salah satu zat organik yg berlimpah di dunia tumbuh2xan.
*Sellulosa merupakan pembentuk pokok dinding sel dan berbentuk mikrofibril
*Didalam tumbuh2an seringkali ditemukan bersatu dgn hemicellulosa dan lignin
*Bentuk sellulosa sebagian kristalin dan sebagian amorfous
*
*Hemicellulosa
*Terdapat dlm dinding sel tanaman bersama dgn sellulosa dan lignin
*Jumlah hemicellulosa antara 20 – 35 % dari berat kayu
*Hemicellulosa tidak mampu membentuk daerah kristalin sebagian besar didominasi bagian amorfous
*
*Karbohidrat
*Fungsi karbohidrat adl :
*1. sebagai bahan bakar (glukosa, pati dan glikogen)
*2. sebagai bahan penyusun struktur sel (selulosa, kitin dan pectin)
*Karbohidrat molekul rendah mengganggu proses penggabungan (setting) semen pada papan wol kayu
*
*Lignin
*Lignin ditemukan dlm hampir semua timbuhan
*Lignin dalam tumbuhan merupakan substansi yg tidak larut
*Cara isolasi lignin dgn mendegradasi sellulosa dan hemicelulosa dgn hidrolisa asam sulfat yg kuat terhadap molekul gula yg rendah, sisa residu coklat ditetapkan sbg lignin
*Manfaat lignin : sebagai bahan bakar, bahan pengikat, perontok bulu kaki dan bahan pengurai
*Ekstraktif
*Ekstraktif dapat diekstraksi dalam pelarut organik dan air
*Kebanyakan ekstraktif terdapat dalam kayu teras, karena ekstraktif bersifat racun sehingga serangga perusak tidak bisa  menyerang kayu teras
*Beberapa ekstraktif menjadi penyebab gelapnya warna kayu pada kayu teras
*Unsur2x anorganik (abu) juga terdapat didlm ekstraktif kayu, tetapi tdk dapat diekstraksi dari kayu dgn menggunakan pelarut organik karena pelarut organik tidak melarutkan unsur2x anorganik
*Pengaruh positif & negatif ekstraktif
*Pengaruh Positif :
1.Warna kayu (dekoratif)
2.Meningkatkan ketahanan kayu thd kerusakan secara biologis
3.Meningkatkan ketahanan thd serangan secara kimia
4.Meningkatkan ketahanan kayu thd lecet
*Pengaruh Negatif :
1.Menyebabkan penggumpalan dan mengotori permukaan selama pengerjaan kayu secara mekanis karena adanya terpen dan resin
2.Menggannggu fungsi lignin selama proses pulping sulfat karena adanya phenol dan tanin
3.Menyebabkan korosi pada pisau gergaji
4.Menimbulkan reaksi warna pada logam (Fe,Cu)
5.Sebagian bersifat racun
6.Perubahan warna kayu krn cahaya
*Abu (unsur2x anorganik)
*Unsur2x anorganik dalam kayu berbeda2x utk berbagai jenis kayu :
1. 0,2 – 1% utk jenis2x kayu didaerah beriklim sedang
2. 4% utk daerah tropis
*Umumnya abu kayu mengandung oksida2x sbb :
1.CaO  =  40 – 70%
2.K2O  =  10 – 30%
3.MgO  =    5 – 10%
4.Fe2) 3=   0,5 – 2%
5.Na2O  =   10%
6.Sejumlah kecil oksida mangan, alumunium dan logam
*Unsur2x anorganik (unsur2x mineral) tedapat dalam kayu dalam bentuk karbonat, fosfat, sulfat, oksalat dan silikat.  Unsur2x ini tersebar pada seluruh bagian struktur kayu
*
*

October 4, 2011
dip_putradi
1 Comment

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN

PROPOSAL PENELITIAN

 

PENGARUH BEBERAPA VARIETAS JAGUNG DAN DOSIS PUPUK CAIR KOTORAN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG

 

DISUSUN OLEH :

NAMA           : ANDI KASTALANI

                                     

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SAMAWA (UNSA)

SUMBAWA BESAR

TAHUN 2010

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

PENGARUH BEBERAPA VARIETAS JAGUNG DAN

DOSIS PUPUK CAIR KOTORAN SAPI TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH ;

ANDI KASTALANI

NIM  ; 07.04.07.0176

Disetujui oleh ;

Dosen pembimbing

 

 

IKHLAS SUHADA,SP.,M.Si

 

KATA PENGANTAR               

       Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga proposal yang berjudul  “Pengaruh Beberapa Varietas Jagung dan Dosis Pupuk Cair Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea Mays L ) di Kabupaten Sumbawa Barat “ dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktunya.    

Penyususunan Proposal ini bertujuan untuk melaksanakan penelitian dalam rangka menyelesaikan tugas akhir belajar menempuh jenjang S.1 di Fakultas Pertanian Universitas Samawa.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen, rekan-rakan Mahasiswa dan semua pihak yang telah membantu melaksanakan penyususunan proposal. Dengan demikian semoga proposal ini bisa memberikan gambaran bagi semua pihak yang berkompeten terhadap perkembangan teknologi pertanian.

Penyusun

                                               

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN  …………………………………      i

DAFTAR ISI …………………………………………………………      ii

  1. PENDAHULUAN ……………………………………………………….      1

1,1                                                                                                                                                                                                                                  Latar Belakang                1

1,2                                                                                                                                                                                                                                  Masalah                3

1,3                                                                                                                                                                                                                                  Maksud dan Tujuan Penelitian    …………………………………………………………………………………………………. 4

1,4                                                                                                                                                                                                                                  Manfaat Penelitian                       4

1,5                                                                                                                                                                                                                                 Hipotesa                   4

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1                                                                                                                                                                                                                                  Pupuk             5

2.1.1.  Ketegori Pupuk……………………………………………..      5

2.1.2.  Pupuk Organik………………………………………………      7

2.1.3.  Pupuk Kandang……………………………………………..      9

2.1.4.  Urine Sapi…………………………………………………….      12

2.2                                                                                                                                                                                                                                  Jagung            14

2.2.1 Taksonomi Jagung…………………………………………..      14

2.2.2  Morfologi Tanaman jagung……………………………..      14

2.2.3 Varietas Jagung………………………………………………      16

2.2.4  Syarat tumbuh Tanaman Jagung………………………      16

2.2.5  Hama Penyakit Tanaman Jagung……………………..      17

  1. METODELOGI PENELITIAN

3.1.Materi…………………………………………………………………..      21

3.1.1.  Bahan-Bahan Penelitian………………………………….      21

3.1.2.  Alat-Alat Penelitian………………………………………..      21

3.1.3.  Tempat dan Waktu Penelitian………………………….      21

3.2. Metode penelitian…………………………………………………..      21

3.2.1.  Rancangan percobaan…………………………………….      21

3.2.2.  Metode Analisa data……………………………………….      22

3.2.3.  Parameter Penelitian……………………………………….      22

3.2.4.  Pelaksanaan penelitian……………………………………      24

3.2.5.  Jadwal Penelitian……………………………………………      30

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..      31

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1   latar Belakang

Jagung sampe saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi Karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga masih mempunyai arti penting dalam pengembangan industry pakan ternak khususnya pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industry pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakian meningkat pula ( subandi et  al.,1998 )

Usaha peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yakni : (1) Eksentifikasi ( perluasan areal ) dan (2) intensifikasi ( peningkatan produktivitas ). Program perluasan areal tanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik saeah irigasi maupun sawah lahan tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi melalui pola tanam. Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan teknologi dan manajemen pengelolaan. Uasaha-usaha tersebut nyata meningkatan produktifitas jagung terutama dengan  penerapan teknologi inovatif yang lebih berddaya saing (produktif, efesien, dan berkualitas) telah dapat menghasilkan jagung sebesar 7-12 ton /ha seperti ditemukan varietas unggul baru dengan tingkat produktifitas tinggi dan metode manajemen pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terpadu

Namun disadari oleh para pemulia tanaman bahwa varietas hibrida yang sama pada lokasi yang berbeda belum tentu sama produktifitasnya, hal ini dipengaruhi oleh keadaan iklim, cuaca, tanah, kandungan hara, tofograpi ( sutoro Et el, 1998 ) dan keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki oleh petani. Untuk mendapatkan varietas yang memiliki tingkat kesesuaian lahan sangat baik tentunya diremukan beresamaan terhadap factor-faktor penentu produksi tersebut diatas.

Tidak hanya itu penentu produktifitas tanaman juga dipengaruhi oleh asupa nunsur hara yang diberikan pada tanaman, semenjak revolusi hijau penggunaan pupuk anorganik mulai terus digalakkan. Pada awalnya produksi sangat tinggi dan menjadikan kehidupan petani dapat terangkat kesejahteraannya. Belakangan penggunaan pupuk organic (kimia) mulai dirasakan justru semakin menurunkan hasil dirinjau dari segi ekonomisnya, serta terjadi kemunduran kesehatan lingkungan sebagai akibat pencemaran reaksi kimia baik terhadap tanah maupun air.

Selain itu, keadaan pupuk anorganik pada tingkat pengecer, terkadang keadaaannya tidak sesuai dengan kebutuhan baik volume atapun waktu aplikasi pemupukan, sehingga petani mencari alternative lain dengan memanfaatkan keberadaan limbah yang berada disekitarnya baik kotoran hewan maupun batuan dan tanaman. Namun  disadari sekarang ini terutama di Sumbawa barat keberadaan dan penggunaan pupuk organic masih belim begitu meluas, hal ini disebabkan oleh beberapa factor seperti masih kurangnya pengetahuan petani, kebutuhan pupuk organik diperlukan dalam volume yang besar untuk kebutuhan tanaman, carap enggunaan pupuk organik terutama yang berasal dari kotoran ternak terutama urine belum begitu diketahui, karakteristik pupuk kandang dengan kandungan hara yang kecil serta lambat tersedia.

Penggunaan pupuk organic khususnya di Sumbawa Barat hanya dilakukan oleh petani yang memiliki pengetahuan tentang produk organic serta adanya petan yang hanya mencobba aplikasi penggunaan pupuknorganik namun belum merupakan kebutuhan yang sangat esensial bagi tanah, tanaman, dan produksi sehat. Disini lain informasi tentang penggunaan pupuk organikperlu dilakukan penelitian tentang pengaruh beberaa varietas tanaman jagung dan dosis pupuk cair sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung di Desa Meraran Kecamatan Seteluk.

1.2     Maslah

Penggunaan pupuk Organik secara terus menerus menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan tanah dan akan mengakibatkan rendahnya hasil produksi jagung. Upaya yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan yaitu pemikihan varietas ungguldengan menambahkan bahan organic kedalam tanah. Pupuk cair kotoran sapi merupakan bahan organic yang banyak tersedia namun pemamfaatannya oleh petani masih kurang mampu dikarenakan keterbatasa pemikiran membuat menjadi pupuk organik.

1.3     Maksud Dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui kombinasi yang tepat jenis/varietas jagung dan dosis pupuk cair kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa varietas jagung dan dosis pupuk cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

1.4     Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi para pemerhati tanaman jagung dalam pemillihan jenis/varietas tanaman dan besarnya dosis pupuk cair organic kotoran sapi untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut, dan menjadi sumber penbanding bagi peneliti yang lain pada bidang yang sama dengan aspek yang berbeda, serta menjadi pengetahuan praktis bagi petani dalam mempertimbangkan penggunaan jenis/varietas dan aplikasi dosis pupuk cairpada lahan usaha taninya.

1.5     Hipotesa

Untuk mengarahkan jalannya produksi ini maka diajukan hitesa sebagai berukut :

HO :    Baberapa varietas tanaman jagung dan dosis pupuk cair kotoran sapi, barpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

HI :      Beberapa varietas tanaman jagungdan dosis pupuk cair kotoran sapi, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  PUPUK

Dalam arti luas yan dimaksub pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik lagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan PH tanah yang masam, pemberian legin bersama benih tanaman kacang-kacangan serta pemberian pembenah tanah ( soil conditioner ) untu memperbaiki sifat pisik tanah. Demikian pula pemberian urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam tanah tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan. Dengan demikian bahan kapur, legin, pembenah tanah dan urea disebut pupuk ( Winarso, S., 2005 ).

Dalam pengertian yang khusus pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, dari kegiatan yang disebutkan diatas hanya urea yang dianggap pupuk karena bahan tersebut yang megandung hara tanaman yaitu Nitrogen ( Fot, H.D., 1994).

Bahan pupuk tersebut selain mengandung hara tanaman umumnya mengandung bahan lain, yaitu ( adisumartho, S, 1994 ):

  1. Zat pembawa atau ( carrier) double superpospat (DS) ; zat pembawanya adalahCaSO4 dan hara tanamannya fosfor (p)
  2. Senyawa-senyawa lain berupa kotoran ( imputities ) atau campuran bahan lain dalam jumlah relative sedikit. Misalnya ZA (zwavelzuure amoniak) sering mengandung kotoran sekitar 3% berupa kholor, asm bebas ( H2SO4 )dan sebagainya.
  3. Bahan mantet ( coated ) ialah bahan yang melapisi pupuk dengan maksud agar pupuk mempunyai nilailebih baikmisalnya kelarutannya berkurang, nilai higrokopopisnyamenjadi lebih rendah dan mungkin akan lebih menerik. Bahan yang diginakan untuk selaput berupa aspal, lilin, malam, wax dan sebagainya. Pupk yang bermantel harganya lebih mahal dibandingkan tanpa mantel.
  4.  Filler ( pengisi ) pupuk majemuk atau pupuk kandang yang diinginkan, juga dengan maksud agar lebih mudah disebar lebh merata.

Dalam praktek perlu diketahui istilah-istilah khusus yang sering digunakan dalam pupuk antara lain ialah ( simanungkawit, R.D.M., dkk. 2006 ) :

  1. Mutu pupuk atau grade fertilizer artinya angka yang menunjukkan kadar gara tanaman utama ( N,P dan K ) yang dikandung oleh upuk yang dinyakan dalam prosen N total,  P2o5 K2O. misalnyapupuk rustika Yellow 15-10-12berarti kadar N 15 % P205 dan K2O 12 %.
  2. b.   Perbandimga pupuk atau ratio fertiliser ialah perbandingan unsure N, P dan k yang dinyatakan dalam N total, P2O5 K2O merupakan perbandingan dari grade vertiliser  misalnya grade fertiliser 16-12-20 berarti ratio fertilisernya 4:3:5.
  3. Mixed fertilizer atau pupuk campur ialah pupuk yang berasal dari berbagai pupuk yang kemudian dicampur oleh pemakainya. Misalnya pupuk Urea, TSP dan KCI dicampur  menjadi satu dengan perbandingan tertentu sesuai dengan mutu yang diinginkan. Hal ini berbeda denga pupuk majemuk  yaitu pupuk yang mempunyai dua atau lebih hara tanaman langsung dibuat langsung dari pabriknya.

 

2.1.1                Kategori Pupuk

Pupuk dapat dibedakan berdasarkan bahan asal, senyawa, fase cara penggunaan, reaksi fisiologi, jumlah dan mcam hara yang dikandungnya ( sutanto,2002 ) dapat diuraikan sebagai berikut :

Berdasarkan asalnya dibedakan :

  1. Pupuk alam ialah puppuk terdapat dari alam atau dibuat dari bahan alam tanpa proses yang berarti. Misalnya: pupuk kompos, pupuk kandang, gannopupuk hijau dan pupuk batuan P.
  2. Pupuk buatan ialah pupuk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya : TSP, urea rustika dan nitrophoska. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika atau kimia.

Bardasarkan senyawanya dibedakan :

  1. Pupuk organic ialah pupuk yang berupa senyawa organic kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organic : pupuk kandang, kompos, guano, pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organic misalnya rock phospat, umumnya berasal dari batuan sejenis apatit [ Ca3(PO4)2].
  2. Pupuk anorganik atau pupuk mineral merupakan pupuk dari pupuk dari senyawa anorganik. Hamper semua pupuk buatan tergolomg pupuk anorganik.

Berdasarkan fase-nya dibedakan :

  1. Padat. Pupuk padat umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut.
  2. Pupuk cair, pupuk ini berupa cairan, cara penggunaanya dilaritkan dulu pakai air, umunya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung banak hara, baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal. Pupuk amoniak cair merupakan pupuk cair yang kadar N nya sangat tinggi sekitar 85 %,  penggunaanya dapat lewat tanah ( injeksikan )

Berdasarkan cara penggunaanya dibedakan :

  1. Pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukannya dilarutkan dalam air dan disemprotkan pda permukaan daun.
  2. Pupuk akar atau pupu anah ialah pupuk yang diberikan ke dalam tanah disekitar akar akar agar disserap oleh akar tanaman.

Berdarkan reaksi fisikologisnya dibedakan :

  1. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis masam artinya bila pupuk tersebut diberikan ke dalam tanah ada kecendrunga tanah menjadi leebih masam (pH menjadi lebih rendah ) misalnya : Za dan Urea.
  2. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basis ialah pupuk yang apabila diberikan ke dalam tanah menyebabka pH tanah cendrung naik misalnya :  pupuk chili shalpeter, calnitro, kalsium sianida.

Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya dibedakan :

  1. pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman sja. Misalnya urea hanya mengandung hara N, TSP hanya dipentingkan P saja ( sebetulnya juga mengandung Ca )
  2. pupuk majemuk ialah pupuk yang mengadunng dua atau lebih dua hara tanaman. Contoh : NPK, amophoska, nitrophoska dan rustika.

Berdasarkan macam hara tanamaan dibeakan :

  1. pupuk makro ialah pupuk yang hanya mengandung hanya hara makro saja: NPK, Nitrophoska, Gandasil.
  2. Pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hanya mikro saja, misalnya : Mikrovet, mikroplek, metalik.
  3. Campuran makro dan makro mislnya : pupuk gandasil, bayfolan, rustika. Sering juga ke dalam pupuk campur makro dan mikroditambahkan juga zat pengatur tumbuh ( hormon tumbuh ).

2.1.2  PUPUK ORGANIK

penggunaan

 

 

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

MAKALAH EKOLOGI

MAKALAH EKOLOGI

TENTANG KOMUNITAS

 

                                                   


 

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Komunitas
    Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
  2. Nama Komunitas
    Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
    Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan :

    1. Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil
    2. Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan,dll

Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropik.

  1.  Macam-macam Komunitas
    Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:

    1. Komunitas akuatik
      Komunitas ini misalnya yang terdapat di laut, di danau, di sungai, di parit atau di kolam
    2. Komunitas terestrial
      Yaitu kelompok organisme yang terdapat di pekarangan, di hutan, di padang rumput, di padang pasir, dll.
  2. Struktur Komunitas
    1. Karakter kominitas
      1. Kualitatif, seperti komposisi, bentuk hidup, fenologi dan vitalitas.
        Vitalitas menggambarkan kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme.
      2. Kuantitatif, seperti Frekuensi, densitas dan densitas relatif.
        Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat.
        Densitas (kepadatan) dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa per unit contoh, atau persatuan luas/volume, atau persatuan penangkapan
      3. Sintesis adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur pasti terarah dan dapat diramalkan. Suksesi-suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitasnya dan memerlukan waktu. Proses ini berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimas. Dalam tingkat ini komunitas sudah mengalami homoestosis. Menurut konsep mutahir suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioner oleh jenis-jenis yang lebih mantap yang sangat sesuai dengan lingkungannya.
        Suksesi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
        Ø Suksesi primer yaitu bila ekosistem mengalami gangguan yang berat sekali, sehingga komunitas awal (yang ada) menjadi hilang atau rusak total, menyebabkan ditempat tersebut tidak ada lagi yang tertinggal dan akhirnya terjadilah habitat baru.
        Suksesi sekunder yaitu prosesnyaØ sama dengan yang terjadi pada suksesi primer, perbedaannya adalah pada keadaan kerusakan ekosistem atau kondisi awal pada habitatnya. Ekologi tersebut mengalami gangguan, akan tetapi tidak total, masih ada komunitas yang tersisa.
  1.  Interaksi
    Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya. Interaksi antarkomponen ekologi dapat merupakan interaksi antarorganisme, antarpopulasi, dan antarkomunitas.

    1. Interaksi antar organisme

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
Netral adalah hubungan tidak saling menggangguØ antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
Predasi adalah hubungan antaraØ mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
ParasitismeØ adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. Contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.
Komensalisme adalah merupakan hubunganantaraØ dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
Mutualisme adalah hubungan antara dua organismeØ yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.

  1. Interaksi Antarpopulasi
    Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.
    Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
    Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
  2. Interaksi Antar Komunitas
    Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
    Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.
  3. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
    Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
    Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pemaparan isi makalah di atas, kami dapat menyimpulkan sebagai berikut :
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
Cara penamaan suatu komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut seperti bentuk atau struktur utama (jenis yang didominan), berdasarkan habitat fisik dari komunitas, atau pun berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsionalnya.
Macam-macam dari komunitas yaitu komunitas akuantik dan komunitas terestrial.
Yang menyusun dari suatu komunitas yaitu karakter komunitas seperti kualitatif, kuantitatif, dan sintesis,
Dan interaksi pada ekosistem dibagi menjadi empet, yaitu interaksi antar organisme, interaksi antar populasi, interaksi antar komunitas, dan interaksi antar komponen biotik dengan abiotik.

DAFTAR PUSTAKA
Irwan, Djamal Zoer’aini, 2003, Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekologi Komunitas dan Lingkungan, Jakarta: Bumi Aksara

http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi

http://rantanie.blogspot.com/2009/04/ekologi-hubungan-dengan-ilmu-lain.htm

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Ekologi merupakan ilmu  yang mempelajari tentang hubungan makluk hidup dan lingkungannya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bumi memiliki banyak sekali macam serta jenis-jenis mahkluk hidup, mulai dari tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sangat beragam hingga organisme yang sederhana seperti jamur, amuba dan bakteri. Meskipun demikian semua mahkluk hidup tidak bisa hidup sendiri, semuanya tergantung pada mahkluk hidup yang lain lingkungannya ataupun benda mati yang ada disekelilingnya. Misalnya seekor kijang membutuhkan tumbuh-tumbuhan tertentu untuk makanan, jika tumbuhan di lingkungan sekitarnya dirusak maka kijang tersebut harus berpindah atau mati kelaparan. Sebaliknya tumbuhan agar bisa hidup juga tergantung pada binatang untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kotoran binatang, bangkai binatang maupun tumbuhan, menyediakan berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tanaman.

Mempelajari ekologi sangat penting, karena masa depan kita sangat tergantung pada hubungan ekologi di seluruh dunia. Meskipun perubahan terjadi di tempat lain di bumi ini, namun akibatnya akan kita rasakan pada lingkungan di sekitar kita. Meskipun ekologi adalah cabang dari biologi, namun seorang ahli ekologi harus menguasai ilmu lain seperti kimia, fisika. Ekologi juga berhubungan dengan bidang ilmu-ilmu tertentu seperti geologi, meteorologi, dan oseanografi, guna mempelajari lingkungan dan hubungannya antara tanah, air, dan udara. Pendekatan dari ilmu-ilmu tersebut bertujuan  untuk memahami bagaimana lingkungan nonhidup mempengaruhi mahkluk hidup. Hal ini bisa membantu memahami bahaya dari penggunaan bahan-bahan fisika dan kimia. Seperti kejadian yang dialami oleh petani di Indonesia pada saat revolusi hijau tahun 1996, dimana pengggunaan pupuk yang berasal dari limbah industri yang diolah dengan cara fisika dan kimia ( pupuk urea, NPK dll ) dapat meningkatkan hasil pertanian Dan itu benar adanya. Namaun saat ini petani dan pemerintah mulai menyadari bahayanya penggunaan pupuk tersebut bagi manusia, hewan, tumbuhan dan tanah. sehingga saat ini pemerintah menganjurkan untuk menggunakan pupuk organic demi mengembalikan kestabilan tanah dan tumbuh-tumbuhan.

Ahli ekologi mempelajari organisasi alam dalam tiga tingkatan:
1. Populasi,
2. Komunitas,
3. Ekosistem

Mereka menganalisa struktur, aktifitas dan perubahan yang terjadi di dalam dan diantara tingkatan-tingkatan ini. Ahli ekologi biasanya bekerja di lapangan, mempelajari cara kerja alam. Mereka sering berada di wilayah yang terisolasi seperti di sebuah kepulauan dimana hubungan antara tanaman dan binatang mungkinlebih sederhana dan mudah untuk dipahami. Misalnya ekologi dari Isle Royale sebuah pulau di danau Superior telah dipelajari secara luas. Banyak ilmuwan yang mengfokuskan pada cara memecahkan suatu masalah, seperti bagaimana cara mengendalikan efek kerusakan polusi udara dan air yang berpengaruh terhadap mahkluk hidup.

POPULASI

Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan.

Faktor yang menentukan populasi

Jumlah dari suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang membatasi pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi diantaranya ketersediaan jumlah makanan yang rendah, pemangsa, persaingan dengan mahkluk hidup sesama spesies atau spesies lainnya, iklim dan penyakit.

Jumlah terbesar dari populasi tertentu yang dapat didukung oleh lingkungan tertentu disebut dengan kapasitas beban lingkungan untuk spesies tersebut. Populasi yang normal biasanya lebih kecil dari kapasitas beban lingkungan bagi mereka disebabkan oleh efek cuaca yang buruk, musim mengasuh bayi yang kurang bagus, perburuan oleh predator, dan faktor-faktor lainnya.

Faktor-faktor yang merubah populasi

Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer, yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan menurun secara tajam.

KOMUNITAS

Sebuah komunitas adalah kumpulan populasi tumbuhan dan tanaman yang hidup secara bersama di dalam suatu lingkungan. Serigala, rusa, berang-berang, pohon cemara dan pohon birch adalah beberapa populasi yang membentuk komunitas hutan di Isle Royale. Ahli ekologi mempelajari peranan masing-masing spesies yang berbeda di dalam komunitas mereka. Mereka juga mempelajari tipe komunitas lain dan bagaimana mereka berubah. Beberapa komunitas seperti hutan yang terisolasi atau padang rumput dapat diidentifikasi secara mudah, sementara yang lainnya sangat sulit untuk dipastikan.

Sebuah komunitas tumbuh-tumbuhan dan binatang yang mencakup wilayah yang sangat luas disebut biome. Batas-batas biome yang berbeda pada umumnya ditentukan oleh iklim. Biome yang utama termasuk diantaranya padang pasir, hutan, tundra, dan beberapa tipe biome air.

Peran suatu spesies di dalam komunitasnya disebut peran ekologi (niche). Sebuah peran ekologi terdiri dari cara-cara sebuah spesies berinteraksi di dalam lingkungannya, termasuk diantaranya faktor-faktor tertentu seperti apa yang dimakan atau apa yang digunakan untuk energi, predator yang memangsa, jumlah panas, cahaya atau kelembaban udara yang dibutuhkan, dan kondisi dimana dapat direproduksi.

Ahli ekologi memiliki catatan yang panjang tentang beberapa spesies yang menempati peran ekologi tinggi tertentu dalam komunitas tertentu.Berbagai penjelasan banyak yang diusulkan untuk hal ini. Beberapa ahli ekologi merasa bahwa hal ini disebabkan karena kompetisi jika dua spesies mencoba untuk mengisi peran ekologi “niche” yang sama, selanjutnya kompetisi untuk membatasi berbagai sumber daya akan menekan salah satu spesies keluar. Ahli lainnya berpendapat bahwa sebuah spesies yang menempati peran ekology yang tinggi, melakukannya karena tuntutan fisik yang keras tentang peran tertentu tersebut di dalam komunitas. Dengan kata lain hanya satu spesies yang menempati peran ekologi “niche” bukan karena memenangkan kompetisi dengan spesies lainnya, tetapi karena hanya satu-satunya anggota komunitas yang memiliki kemampuan fisik memainkan peran tersebut.

Perubahan komunitas yang terjadi disebut suksesi ekologi. Proses yang terjadi berupa urutan-urutan yang lambat, pada umumnya perubahannya dapat diramalkan yakni dalam hal jumlah dan jenis mahkluk organisme yang ada di suatu tempat . Perbedaan intensitas sinar matahari, perlindungan dari angin, dan perubahan tanah dapat merubah jenis-jenis organisme yang hidup di suatu wilayah.

Perubahan-perubahan ini dapat juga merubah populasi yang membentuk komunitas. Selanjutnya karena jumlah dan jenis spesies berubah, maka karakteristik fisik dan kimia dari wilayah mengalami perubahan lebih lanjut. Wilayah tersebut bisa mencapai kondisi yang relatip stabil atau disebut komunitas klimaks, yang bisa berakhir hingga ratusan bahkan ribuan tahun.

Para ahli ekologi membedakan dua tipe suksesi yakni primer dan sekunder. Di dalam suksesi primer organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan seperti sebuah pulau baru yang terbentuk karena letusan gunung berapi. Sebagai contoh anak krakatau yang terbentuk sejak 1928 kini telah dihuni oleh puluhan spesies.

Suksesi sekunder terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan. Komunitas padang rumput dan bunga liar akan tumbuh pertama kali. Selanjutnya diikuti oleh tumbuhan semak-semak. Terakhir pohon-pohonan baru muncul kembali dan wilayah tersebut akan kembali menjadi hutan hingga gangguan muncul kembali. Dengan demikian kekuatan-kekuatan alam yang terakhir menyebabkan terjadinya komunitas klimaks (stabil). Sebagai tambahan para ahli ekologi memandang kebakaran dan gangguan alam besar lainnya sebagai hal yang dapat diterima dan tetap diharapkan.

EKOSISTEM

Sebuah ekosistem adalah level paling kompleks dari sebuah organisasi alam. Ekosistem terbentuk dari sebuah komunitas dan lingkungan abiotiknya seperti iklim, tanah, air, udara, nutrien dan energi. Ahli ekologi sistem adalah mereka yang mencoba menghubungkan bersama beberapa perbedaan aktifitas fisika dan biologi di dalam suatu lingkungan. Penelitian mereka seringkali terfokus pada aliran energi dan perputaran material-material yang ada di dalam sebuah ekosistem. Mereka biasanya menggunakan komputer yang canggih untuk membantu memahami data-data yang dikumpulkan dari penelitian di lapangan dan untuk memprediksi perkembangan yang akan terjadi.

Aliran Energi

Para ahli ekologi mengkategorikan elemen-elemen yang membentuk atau yang memberi efek pada sebuah ekosistem menjadi 6 bagian utama berdasarkan para aliran energi dan nutrien yang mengalir pada sistem:

1. Matahari
2. Bahan-bahan abiotik
3. Produsen
4. Konsumen Pertama
5. Konsumen Kedua
6. Pengurai

Sebuah ekosistem yang sederhana dapat digambarkan seperti berikut. Matahari menyediakan energi yang hampir dibutuhkan semua produsen untuk membuat makanan. Produsen terdiri dari tanaman-tanaman hijau seperti rumput dan pohon yang membuat makanan melalui proses fotosintesis. Tanaman juga membutuhkan bahan-bahan abiotik seperti air dan pospor untuk tumbuh. Yang termasuk konsumen pertama diantaranya tikus, kelinci, belalang dan binatang pemakan tumbuhan lainnya. Ular, macan dan konsumen kedua lainnya atau yang biasa disebut dengan predator adalah pemakan binatang. Pengurai seperti jamur dan bakteri, menghancurkan tanaman dan binatang yang telah mati menjadi nutrien-nutrien sederhana. Nutrien-nutrien tersebut kembali ke dalam tanah dan digunakan kembali oleh tanaman-tanaman.

Tingkatan-tingkatan energi yang berkesinambungan yang berlangsung dalam bentuk makanan ini disebut rantai makanan. Di dalam sebuah rantai makanan yang sederhana rumput adalah produsen, konsumen pertama seperti kelinci memakan rumput. Kelinci selanjutnya dimakan oleh konsumen kedua misalnya ular atau macan. Bakteri pengurai menghancurkan sisa-sisa rumput yang mati, kelinci, ular, dan macan yang tidak termakan, sama halnya seperti menghancurkan kotoran binatang.

Sebagian besar ekosistem memiliki suatu variasi produsen, konsumen dan pengurai yang membentuk sebuah rantai makanan yang saling tumpang tindih yang dinamakan jaringan makanan. Jaringan-jaringan makanan terutama sekali terdapat di ekosistem wilayah tropis dan ekosistem lautan.

Beberapa spesies makan banyak jenis makanan tetapi ada juga yang membutuhkan makanan yang khusus. Konsumen pertama seperti koala dan panda terutama makan satu jenis tanaman. Makanan utama koala adalah eucalyptus dan makanan utama panda adalah bambu. Jika tanaman-tanaman ini mati maka kedua binatang tersebut juga ikut mati.

Energi yang berpindah melalui sebuah ekosistem berada dalam sebuah urutan transformasi. Pertama produsen merubah sinar matahari menjadi energi kimia yang disimpan di dalam protoplasma (sel-sel tumbuhan) di dalam tanaman. Selanjutnya konsumen pertama memakan tanaman, merubah energi menjadi bentuk energi kimia yang berbeda yang disimpan di dalam sel-sel tubuh. Energi ini berubah kembali ketika konsumen kedua makan konsumen pertama.

Sebagian besar organisme memiliki efisiensi ekologi yang rendah. Ini berarti mereka hanya dapat merubah sedikit bagian dari energi yang tersedia bagi mereka untuk disimpan menjadi energi kimia. Contohnya tanaman-tanaman hijau hanya dapat merubah sekitar 0,1 hingga 1 % tenaga matahari yang mencapainya ke dalam protoplasma. Sebagian besar energi yang tertangkap di bakar untuk pertumbuhan tanaman dan lepas ke dalam lingkungan sebagai panas. Begitu juga herbivora atau binatang pemakan tumbuhan dan karnivora binatang pemakan daging merubah energi ke dalam sel-sel tubuh hanya sekitar 10 hingga 20 % dari energi yang dihasilkan oleh makanan yang mereka makan.

Karena begitu banyaknya energi yang lepas sebagai panas pada setiap langkah dari rantai makanan, semua ekosistem mengembangkan sebuah piramida energi. Tanaman sebagai produsen menempati bagian dasar piramid, herbivora (konsumen pertama) membentuk bagian berikutnya, dan karnivora (komsumen kedua) membentuk puncak piramida. Piramid tersebut mencerminkan kenyataan bahwa banyak energi yang melewati tanaman dibandingkan dengan herbivora, dan lebih banyak yang melalui herbivora dibandingkan dengan karnivora.

Di dalam ekosistem-ekosistem daratan piramida energi tersebut menghasilkan sebuah piramida biomasa (berat). Ini berarti bahwa berat total dari tanaman-tanaman adalah lebih besar dibandingkan dengan berat total herbivora yang melampaui berat total karnivora. Tetapi di dalam lautan biomasa (berat) tanaman-tanaman dan binatang-binatang adalah sama.

Ahli-ahli ekologi mengumpulkan informasi pada sebuah piramida biomasa pada Isle Royale. Mereka meneliti hubungan piramida diantara tanaman, rusa dan serigala. Dalam sebuah penelitian mereka menemukan bahwa diperlukan tanaman seberat 346 kg untuk makanan rusa seberat 27 kg. Rusa seberat inilah yang diperlukan untuk makanan serigala seberat 0,45 kg.

Perputaran material-material

Semua benda hidup terdiri dari unsur-unsur kimia tertentu dan senyawa-senyawa kimia. Diantaranya adalah air, karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fospor dan sulfur. Semua material-material ini berputar melalui ekosistem secara terus menerus. Perputaran fospor misalnya, semua organisme membutuhkan fospor. Tanaman mengambil senyawa fospor dari dalam tanah dan binatang memperoleh fospor dari tanaman dan binatang lainya yang dimakan. Pengurai mengembalikan fospor ke dalam tanah setelah tanaman dan binatang mati.

Di alam ekosistem-ekosistem yang tidak terganggu jumlah fosfor adalah tetap, tetapi ketika sebuah ekosistem terganggu terutama oleh aktifitas manusia, fospor seringkali bocor keluar. Hal ini akan mengurangi kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan tanaman. Salah satu contoh adalah ketika manusia merubah hutan menjadi lahan pertanian. Dengan tidak adanya hutan yang melindungi maka fospor hanyut bersama tanah dan tersapu ke dalam sungai atau danau. Hal ini sangat mengganggu pertumbuhan algae. Pada akhirnya fospor terjebak di dalam endapan lumpur di dasar danau atau lautan. Karena kehilangan fospor maka petani harus membeli pupuk yang mahal untuk mengembalikan unsur fospor tersebut kedalam tanah

Perubahan ekosistem muncul setiap hari, secara musiman dan ketika terjadi suksesi (peralihan) ekologi sepanjang masa. Kadangkala perubahan terjadi secara berulang-ulang dan secara mendadak, seperti ketika terjadi kebakaran hutan atau ombak tsunami yang menyapu pantai. Perubahan yang paling terjadi dari hari ke hari terutama pada lingkaran nutrien, yang tidak kelihatan sekali, ekosistem-ekosistem kelihatannya cenderung stabil. Kestabilan yang nyata diantara tanaman dan binatang dan lingkungannya disebut keseimbangan alam.

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Faktor Biotik

Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.

Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut. Perhatikan Gambar.

Gbr. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup

A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Perhatikan Gambar 6.4.

Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya. Lihat Gambar 6.5.

b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga. Lihat Gambar 6.6.

c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan Gambar 6.7

d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.

e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas. (LihatGambar 6.9).

2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.

a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.

b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita. (LihatGambar 6.1 0).

c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya. Lihat Gambar 6.11.

3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :

a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.

b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut. Perhatikan Gambar 6.12.

B. Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang.

Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi :

700 – 500 = 200batang
1990-1980 10 tahun

= 20 batang/tahun

Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.

Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi.

Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.

C. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.

Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.

D. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).

Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (18341914).[1] Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an.[2] Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya.[2] Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.

Para ahli ekologi mempelajari hal berikut[2]:

  1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
  2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang menyebabkannya.
  3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Kini para ekolog(orang yang mempelajari ekologi)berfokus kepada Ekowilayah bumi dan riset perubahan ikli

October 4, 2011
dip_putradi
0 comments

tanjung(mimusops elengi)

Tanjung

Diposkan oleh Marketing Mobile Office of Wood Product.

Tanjung (mimusops elengi)

Tanjung (Mimusops elengi) adalah sejenis pohon yang berasal dari India, Sri Lanka dan Burma. Telah masuk ke Nusantara semenjak berabad-abad yang silam, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama sepertitanjong (Bug., Mak.), tanju (Bim.),angkatan, wilaja (Bal.), keupula cangè(Aceh), dan kahekis, karikis, kariskis, rekes(aneka bahasa di Sulut). Pohon tanjung berbunga harum semerbak dan bertajuk rindang, biasa ditanam di taman-taman dan sisi jalan.

Tanaman Tanjung

Pohon berukuran sedang, tumbuh hingga ketinggian 15 m. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang; daun yang termuda berambut coklat, yang segera gugur. Helaian daun bundar telur hingga melonjong, panjang 9–16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang.[2]

Bunga berkelamin dua, sendiri atau berdua menggantung di ketiak daun, berbilangan-8, berbau enak semerbak. Kelopak dalam dua karangan, bertaju empat-empat; mahkota dengan tabung lebar dan pendek, dalam dua karangan, 8 dan 16, yang terakhir adalah alat tambahan serupa mahkota, putih kekuning-kuningan. Benang sari 8, berseling dengan staminodia yang ujungnya bergigi. Buah seperti buah buni, berbentuk gelendong, bulat telur panjang seperti peluru, 2–3 cm, akhirnya merah jingga, dengan kelopak yang tidak rontok. Biji kebanyakan 1, gepeng, keras mengilat, coklat kehitaman.

Buah tanjung

Manfaat

Bunganya yang wangi mudah rontok dan dikumpulkan di pagi hari untuk mengharumkan pakaian, ruangan atau untuk hiasan. Bunga ini, dan aneka bagian tumbuhan lainnya, juga memiliki khasiat obat. Buahnya dapat dimakan.

Air rebusan pepagannya digunakan sebagai obat penguat dan obat demam. Rebusan pepagan beserta bunganya digunakan untuk mengatasi murus yang disertai demam. Daun segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala; daun yang dirajang sebagaimana tembakau, dicampur sedikit serutan kayu secang dan dilinting dengan daun pisang, digunakan sebagai rokok untuk mengobati seriawan mulut.

Pohon tanjung

Kayunya padat, berat, dan keras. Kayu dari varietasparvifolia yang biasa tumbuh dekat pantai dipilih sebagai bahan pasak dalam pembuatan perahu, untuk tangkai tombak dan tangkai perkakas lain, almari dan mebel, serta untuk tiang rumah. Varietas ini bisa tumbuh setinggi 25 m dan segemang 40 cm. Kayu tanjung juga baik untuk dijadikan bahan ukiran, patung, penutup lantai, jembatan, dan bantalan rel kereta api.